Tekanan mata yang terlihat normal belum tentu menjamin saraf optik berada dalam kondisi aman. Pada sebagian kasus glaukoma, saraf yang rentan tetap dapat rusak meski angka tekanan di dalam mata tidak tergolong tinggi.
Fakta ini membuat pemeriksaan mata menyeluruh lebih penting daripada sekadar menunggu keluhan. Glaukoma dapat berkembang tanpa nyeri, tanpa mata merah, dan tanpa penglihatan tengah yang langsung buram.
Normal Tidak Selalu Berarti Aman
Bola mata memproduksi cairan yang harus mengalir keluar untuk menjaga bentuk dan fungsinya. Gangguan pada aliran tersebut dapat menyebabkan cairan menumpuk, meningkatkan tekanan mata, dan memberi tekanan pada saraf optik.
Namun, Prof. Shamira Asith Perera, pakar glaukoma dari Singapore National Eye Center, menekankan bahwa risiko penyakit ini tidak hanya ditentukan oleh tekanan mata. Kerusakan dipengaruhi pula oleh kemampuan saraf optik menahan tekanan tersebut.
Ia menyebut normal-tension glaucoma banyak dijumpai di beberapa kawasan Asia. Kondisi itu terjadi ketika tekanan mata tergolong normal, tetapi saraf optik memiliki kerentanan yang memungkinkan kerusakan tetap berlangsung.
Kerusakan Saraf Bersifat Tetap
Glaukoma menyerang saraf optik, jalur yang membawa informasi visual dari mata menuju otak. Ketika serabut saraf itu rusak, bagian penglihatan yang hilang tidak dapat dikembalikan.
Prof. Shamira membedakan penyakit ini dari katarak yang terjadi akibat lensa mata keruh. Penglihatan pada katarak dapat kembali jernih setelah operasi penggantian lensa, sedangkan glaukoma mengenai bagian saraf dalam sistem saraf pusat.
“Kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen (irreversible). Apa pun bagian penglihatan yang sudah hilang, akan hilang selamanya,” ujar Prof. Shamira. Pengobatan karena itu diarahkan untuk mempertahankan penglihatan yang masih tersisa.
Tanda Awal Sering Tertutup
Gangguan glaukoma lazimnya dimulai pada penglihatan tepi, bukan bagian tengah pandangan. Seseorang dapat tetap membaca atau melihat objek di depan dengan jelas meski bidang pandangnya perlahan menyempit.
Satu mata dapat mengimbangi mata lainnya, sementara otak mengisi celah pandangan yang hilang. Penderita kadang baru menyadari masalah setelah sering membentur benda di sekitar atau pintu.
Informasi yang dimuat Suara.com menyebut lebih dari 50 persen penderita tidak mengetahui kondisinya hingga penyakit sudah cukup parah. Hal tersebut menjadikan pemeriksaan rutin penting, khususnya pada orang dengan risiko lebih besar.
| Faktor risiko | Penjelasan | Risiko yang disebutkan |
|---|---|---|
| Usia | Usia 40 tahun ke atas | Meningkat signifikan |
| Keluarga inti | Orang tua atau saudara kandung mengalami glaukoma | Hingga 6 kali lipat |
| Miopia tinggi | Mata minus berat | 3 kali lebih tinggi |
| Steroid jangka panjang | Digunakan tanpa pengawasan dokter | Dapat menaikkan tekanan mata |
Pilihan Penanganan Terus Berkembang
Obat tetes mata harian masih menjadi salah satu cara menangani glaukoma, tetapi bukan satu-satunya pilihan. Terapi laser presisi dapat membantu melancarkan saluran cairan mata dengan cepat dan berisiko rendah.
Bedah minim invasif atau MIGS juga dirancang untuk menurunkan tekanan mata secara signifikan. Inovasi lain mencakup obat tetes kombinasi serta implan pelepas obat berkala yang dapat bekerja di dalam mata hingga satu tahun.
Orang berusia lebih dari 40 tahun, memiliki riwayat keluarga, miopia tinggi, atau menggunakan steroid jangka panjang perlu memberi perhatian khusus pada kesehatan mata. Pemeriksaan ke dokter spesialis mata dapat dilakukan sebelum kerusakan saraf optik berkembang menjadi kehilangan penglihatan yang lebih luas.






