Rekomendasi sodium bromida sebagai alternatif garam dapur berakhir pada perawatan psikiatri intensif bagi seorang pria berusia 60 tahun di Seattle, Amerika Serikat. Setelah mengonsumsi bahan itu rutin selama tiga bulan, ia mengalami paranoia berat serta halusinasi pendengaran dan penglihatan.
Pemeriksaan darah menunjukkan kadar bromida pasien mencapai 230 kali di atas batas normal. Temuan tersebut mengarah pada bromism, yaitu keracunan bromida yang dapat memengaruhi sistem saraf dan kondisi kejiwaan.
Gangguan Mental Memicu Penahanan Psikiatri
Pasien dibawa ke unit gawat darurat setelah kondisinya memburuk. Dalam 24 jam pertama perawatan, paranoia dan halusinasi yang dialaminya dilaporkan semakin meningkat.
Ia sempat mencoba melarikan diri dari rumah sakit. Dokter kemudian menilai pasien mengalami ketidakmampuan berat sehingga diperlukan penahanan psikiatri secara paksa.
Penanganan berlanjut dengan pemberian obat antipsikotik selama tiga minggu. Setelah gejala membaik dan halusinasi hilang, pasien mengungkap kebiasaan mengonsumsi sodium bromida sebagai pengganti garam dapur.
| Temuan | Rincian |
|---|---|
| Usia dan lokasi pasien | 60 tahun, Seattle, Amerika Serikat. |
| Lama konsumsi sodium bromida | Sekitar tiga bulan secara rutin. |
| Gejala utama | Paranoia serta halusinasi pendengaran dan penglihatan. |
| Kadar bromida darah | 230 kali di atas batas normal. |
Pencarian Alternatif Sodium Klorida
Sebelum dirawat, pria tersebut mencari bahan pengganti sodium klorida, zat yang umum digunakan sebagai garam dapur. Ia mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT karena menganggap alternatif garam dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.
Menurut laporan yang dikutip health.detik.com, chatbot itu disebut menyarankan sodium bromida. Pasien mengikuti jawaban tersebut dan menjadikan zat itu sebagai konsumsi rutin selama tiga bulan.
Tim dokter lalu menguji kembali pertanyaan yang sama kepada ChatGPT. Dalam pengujian itu, chatbot masih memberikan rekomendasi sodium bromida tanpa menyertakan peringatan terkait potensi bahaya kesehatannya.
Riwayat Risiko Garam Bromida
Sodium bromida bukan pengganti garam dapur yang aman untuk penggunaan rutin. Garam bromida memang pernah dipakai dalam pengobatan, tetapi penggunaannya dilarang sejak pertengahan abad ke-20 setelah dikaitkan dengan gangguan kejiwaan.
Laporan medis juga menyebut bromida pernah menjadi penyebab sekitar 8 persen pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa pada masanya. Riwayat tersebut menunjukkan dampak serius yang mungkin timbul ketika paparan bromida terjadi secara berlebihan.
Kasus ini dipaparkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine melalui laporan A Case of Bromism Influenced by Use of Artificial Intelligence. Penulis laporan menempatkan penggunaan AI sebagai bagian penting dari konteks paparan yang dialami pasien.
Jawaban Umum Tidak Menggantikan Penilaian Medis
Chatbot dapat membantu menyajikan informasi umum, namun tidak selalu menilai dosis, riwayat kesehatan, keamanan senyawa, atau konsekuensi pemakaian jangka panjang. Karena itu, jawaban yang tampak masuk akal tidak semestinya langsung diterapkan untuk keputusan konsumsi zat.
Gangguan mental yang muncul mendadak juga perlu diperiksa dari berbagai kemungkinan penyebab, termasuk paparan bahan beracun. Pemeriksaan toksikologi dapat menjadi langkah penting untuk menemukan faktor fisik yang membutuhkan penanganan medis khusus.
Kasus di Seattle memperlihatkan pentingnya konsultasi dengan tenaga medis sebelum mengganti bahan pangan atau mengonsumsi senyawa tertentu secara teratur. Keputusan tanpa penilaian profesional dapat menimbulkan risiko yang tidak terlihat dari jawaban singkat sebuah chatbot.






