Kondisi pasien yang berubah dapat membuat hasil pemeriksaan medis di dua rumah sakit tidak sama. Prof Ari Fahrial Syam menekankan bahwa perbedaan diagnosis harus dilihat bersama waktu pemeriksaan dan perjalanan penyakit pasien.
Pasien yang semula menunjukkan gejala akut bisa datang ke rumah sakit lain setelah kondisinya membaik. Dalam keadaan seperti itu, tanda infeksi atau gejala yang sebelumnya terlihat dapat tidak lagi ditemukan.
Penjelasan tersebut muncul dalam pembahasan mengenai pengalaman seorang selebgram yang memperoleh diagnosis berbeda di Indonesia dan Penang. Pemeriksaan di Indonesia mengarah pada radang usus buntu, sedangkan pemeriksaan berikutnya di Penang menyatakan kondisi lain.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM itu menilai kasus semacam ini tidak dapat dipahami hanya dengan membandingkan nama rumah sakit atau negara tempat pasien berobat. Kondisi klinis seseorang bisa berubah sebelum pemeriksaan lanjutan dilakukan.
Perjalanan Penyakit Dapat Berubah dalam Beberapa Minggu
Prof Ari mencontohkan perubahan gejala pada pasien dengan kondisi yang berkaitan dengan apendisitis. Gejala akut dapat hilang dalam waktu relatif singkat apabila keadaan pasien membaik.
“Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis,” kata Prof Ari.
Menurut penjelasannya, apendisitis kronis dapat mengalami kekambuhan akut sewaktu-waktu. Pemeriksaan pada saat kekambuhan dan pemeriksaan ketika gejala telah mereda berpotensi menunjukkan hasil yang berbeda.
Ia juga mengaitkan penilaian kondisi akut dengan kemampuan pasien melakukan aktivitas. Pasien yang masih sanggup bepergian menggunakan pesawat, berjalan, dan datang ke rumah sakit perlu dinilai berdasarkan keadaan yang tampak saat itu.
“Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut,” ujarnya.
Pasien yang menjalani pemeriksaan lanjutan, menurut Prof Ari, bisa saja sudah tidak lagi dalam fase akut. Kondisi yang membaik dapat menyebabkan infeksi yang sebelumnya terdeteksi tidak lagi terbukti dalam pemeriksaan berikutnya.
“Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi,” lanjutnya. “Sudah mungkin kronis kalau diperiksa pun juga tidak terbukti lagi adanya infeksi.”
Pengalaman Berobat Tidak Selalu Sama
Prof Ari turut mengingatkan bahwa narasi mengenai berobat ke luar negeri perlu melihat berbagai pengalaman pasien. Tidak semua pasien yang mencari perawatan di luar Indonesia memperoleh hasil yang diharapkan.
Ia menyebut ada pasien yang gagal diobati di Penang dan akhirnya kembali menjalani pengobatan di Indonesia. Fakta tersebut, menurutnya, penting disertakan ketika membandingkan pelayanan kesehatan antarnegara.
“Padahal di satu sisi saya juga mesti bilang, ada juga pasien-pasien yang gagal diobati di Penang, berobat juga akhirnya ke Indonesia. Ini yang mesti kita ketahui,” kata Prof Ari.
Ia menilai layanan kesehatan Indonesia sering disudutkan ketika isu perbedaan diagnosis menjadi perhatian publik. Namun, satu pengalaman pasien tidak cukup untuk menjadi dasar penilaian menyeluruh atas mutu pelayanan kesehatan di Indonesia maupun di luar negeri.






