Risiko terganggunya pasokan minyak global kembali mengangkat harga energi di pasar internasional. Kontrak Brent naik 2,65 persen menjadi 90,87 dollar AS per barrel pada akhir perdagangan Senin (17/8/2026).
Penguatan tersebut terjadi ketika pelaku pasar mencermati pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dan belum adanya penyelesaian cepat konflik di Timur Tengah. Kontrak WTI AS turut naik 2,55 persen ke level 84,50 dollar AS per barrel.
| Jenis Kontrak | Harga Akhir | Kenaikan |
|---|---|---|
| Brent | 90,87 dollar AS per barrel | 2,35 dollar AS atau 2,65 persen |
| WTI AS | 84,50 dollar AS per barrel | 2,10 dollar AS atau 2,55 persen |
Harga kedua kontrak itu telah melonjak lebih dari 5 persen sepanjang pekan sebelumnya, berdasarkan laporan Reuters yang dikutip money.kompas.com. Pasar bereaksi terhadap serangan pada kapal tanker yang dioperasikan ADNOC di Hormuz serta serangan terhadap kilang Saudi Aramco.
Level 90 Dollar AS Mencerminkan Kekhawatiran Pasar
Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai harga minyak di sekitar 90 dollar AS per barrel menunjukkan pasar sedang menghitung risiko kekurangan minyak dan gangguan pasokan yang lebih besar. Namun, ia menilai kenaikan lebih tajam memerlukan gangguan mendadak pada aliran minyak melalui Selat Hormuz atau penutupan Selat Bab el-Mandeb.
Perhitungan pasar juga dipengaruhi peran Hormuz sebagai jalur yang sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Hambatan pada lintasan tersebut dapat memperlambat pengiriman minyak mentah ke sejumlah negara tujuan.
Data Kpler menunjukkan penurunan aktivitas kapal di jalur itu pada akhir pekan. Lima kapal pengangkut komoditas melintas pada Sabtu, lalu tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Perlambatan pelayaran mempertegas kekhawatiran bahwa gangguan tidak hanya bersifat sementara.
Negosiasi dan Retorika Konflik Menjadi Penentu
Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan Selat Hormuz masih berlangsung. Ia menyebut perundingan membutuhkan waktu panjang karena masalahnya kompleks, melibatkan banyak pihak, serta adanya negara yang berupaya mengganggu proses negosiasi.
Analis Naga.com Frank Walbaum menilai pembatasan pelayaran dan kebuntuan perundingan membatasi peluang penurunan harga minyak. “Pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas dan perundingan telah mencapai kebuntuan. Kedua faktor tersebut membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut,” ujarnya.
Walbaum melihat harga dapat bertahan di kisaran saat ini selama belum ada pemicu baru. Sebaliknya, tercapainya penyelesaian konflik yang membuka kembali jalur Hormuz dapat mendorong penurunan harga secara tajam karena kecemasan pasokan berkurang.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya tidak mencari perpanjangan memorandum kesepahaman dengan Iran. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan tekanan sanksi ekonomi dan embargo minyak memberi ruang bagi Trump untuk menunggu Iran, yang menurutnya saat ini tidak dapat mengekspor minyak.
Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, menilai retorika konflik yang semakin keras ikut mendukung kenaikan minyak. “Ketika retorika semakin memanas, begitu pula harga minyak,” kata Flynn.
Kilang Asia Mencari Pasokan di Tengah Gangguan
ADNOC dilaporkan menjual sedikitnya 14 juta barrel minyak mentah kepada kilang-kilang Asia melalui pasar spot dengan harga premium dalam tender terbaru. Saudi Aramco juga menawarkan minyak mentah dari luar Selat Hormuz kepada sejumlah kilang di Asia.
Langkah tersebut menunjukkan produsen berupaya menjaga penyaluran minyak di tengah hambatan distribusi. Pasar tetap akan memantau keamanan pelayaran, perkembangan negosiasi, dan ketersediaan pasokan alternatif sebagai penentu arah harga berikutnya.






