Anak yang Selalu Dituntut Unggul Berisiko Tak Berani Mencoba Hal Baru

Anak yang terus dituntut unggul berisiko menjadi takut mencoba hal baru karena kesalahan terasa seperti kegagalan yang harus dihindari. Situasi ini dapat muncul ketika harapan orang tua lebih sering disampaikan sebagai tekanan daripada dukungan.

American Psychological Association merangkum penelitian yang mengaitkan ekspektasi tinggi dan kritik dari orang tua dengan meningkatnya kecenderungan perfeksionisme pada anak muda. Karena itu, keberhasilan anak perlu dipahami lebih luas daripada sekadar hasil terbaik.

Kesalahan Perlu Dipandang sebagai Bagian Belajar

Anak memerlukan ruang aman untuk bermain, keliru, lalu belajar kembali. Pengalaman tersebut membantu mereka membangun keberanian untuk menghadapi tantangan sesuai kemampuan dan minatnya.

Orang tua dapat memberi respons yang berfokus pada usaha, terutama saat anak belum mencapai hasil yang diharapkan. Ucapan, “Wah, kamu sudah berusaha membuat gambar ini,” dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap proses.

Fokus pada proses sejalan dengan konsep growth mindset. Kemampuan anak dapat berkembang melalui latihan, pembelajaran, dan pengalaman yang terus bertambah.

Sebaliknya, membandingkan anak dengan teman sebaya atau berulang kali menonjolkan kekurangannya dapat menambah beban emosional. Anak dapat merasa perlu menghindari kesalahan demi memenuhi standar orang lain.

3 Cara Membantu Anak Bertumbuh Tanpa Tekanan Berlebih

CaraContoh TindakanTujuan
Membuka eksplorasiMencoba kegiatan beragamMenemukan minat
Mendukung prosesMengajak mencoba lagiMelatih ketekunan
Merespons ceritaMendengarkan pertanyaan anakMembangun hubungan responsif

1. Izinkan Anak Mengenal Berbagai Kegiatan

Nilai akademik tidak selalu menunjukkan seluruh kekuatan yang dimiliki anak. Ada anak yang menaruh minat pada seni, olahraga, musik, komunikasi, kreativitas, atau kemampuan memahami orang lain.

Orang tua dapat memberi kesempatan untuk membaca, menggambar, bermain musik, berolahraga, maupun mengikuti aktivitas kreatif. Berbagai pengalaman itu dapat membantu anak menemukan kegiatan yang sesuai dengan minat serta kepribadiannya.

Eksplorasi tidak perlu selalu berorientasi pada prestasi. Anak dapat belajar mengenali diri melalui aktivitas yang dilakukan secara bertahap dan menyenangkan.

2. Dampingi Usaha, Bukan Hanya Menilai Hasil

Proses belajar membantu anak melatih ketekunan dan cara menghadapi kesulitan. Dukungan yang tenang saat hasil belum memuaskan dapat membuat mereka lebih siap mengulang usaha.

Alih-alih mengatakan, “Kok belum bisa?”, orang tua dapat mengajak anak bertanya, “Mau coba lagi bersama-sama?” Pendekatan ini memberi anak rasa aman tanpa menghilangkan kesempatan untuk berkembang.

Anak juga dapat diberi kesempatan mengambil keputusan dan menyelesaikan tantangan. Pengalaman tersebut mendukung executive function, termasuk kemampuan mengatur perhatian serta emosi.

3. Beri Perhatian pada Cerita Anak

Percakapan sederhana membantu orang tua memahami apa yang membuat anak tertarik atau bersemangat. Saat merasa didengar, anak cenderung lebih percaya diri untuk menyampaikan gagasan dan mengeksplorasi hal baru.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan pentingnya hubungan responsif antara anak dan orang dewasa. Menjawab pertanyaan, mendengarkan cerita, serta memberi perhatian pada hal yang ditunjukkan anak merupakan bentuk interaksi serve and return.

Bermain Melatih Anak Menghadapi Tantangan

Bermain memberi anak kesempatan memahami lingkungan sambil mengembangkan kreativitas. Aktivitas ini juga mendukung kemampuan sosial dan emosional mereka.

American Academy of Pediatrics melalui laporan klinis The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children menekankan peran bermain dalam perkembangan berpikir, bahasa, relasi sosial, dan pengaturan emosi. Menyusun balok, membuat karya seni, atau mengikuti permainan baru dapat melatih anak mencoba beragam cara dalam menyelesaikan masalah.

Ruang eksplorasi membuat anak tidak hanya terpaku pada satu ukuran keberhasilan. Mereka dapat belajar bahwa kegagalan kecil merupakan pengalaman untuk mengenali kemampuan diri.

Perkembangan Anak Membutuhkan Dukungan yang Menyeluruh

Kesempatan bereksplorasi perlu berjalan bersama pemenuhan nutrisi, stimulasi yang sesuai, dan perhatian orang tua. Ketiga hal tersebut saling melengkapi untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Morinaga melalui konsep Beyond Nutrition mengusung pendekatan Potensi, Atensi, dan Nutrisi. Pendekatan tersebut menempatkan pengalaman baru, hubungan yang suportif, dan kebutuhan nutrisi sebagai bekal agar anak berkembang sesuai potensinya.

Orang tua dapat memulai dari kebiasaan sederhana, seperti bermain bersama, memberi apresiasi, dan menciptakan suasana aman untuk bercerita. Pendampingan yang tidak mengejar kesempurnaan membantu anak belajar percaya pada kemampuan yang dimilikinya.

Baca Juga