Serikat Menolak PHK Massal, Tekanan China Membayangi 100.000 Pekerja VW-Audi

Rencana pengurangan tenaga kerja di Volkswagen dan Audi memicu penolakan dari IG Metall, serikat buruh terbesar di Jerman. Total posisi yang berpotensi terdampak dari dua rencana tersebut mencapai sedikitnya 100.000.

Serikat pekerja menilai pemutusan hubungan kerja massal dapat berbenturan dengan kesepakatan yang dibuat bersama Volkswagen pada 2024. Kesepakatan itu melarang penutupan pabrik dan PHK wajib.

Informasi kepada pekerja dipersoalkan

Juru bicara serikat pekerja Volkswagen, Jan Mentrup, menyoroti cara kabar restrukturisasi beredar di kalangan karyawan. Ia mengatakan puluhan ribu pekerja mengetahui masa depan mereka yang terancam melalui laporan surat kabar, bukan pemberitahuan dari perusahaan.

IG Metall menyatakan akan melawan rencana PHK massal tersebut. Penolakan ini menempatkan manajemen Volkswagen pada tantangan besar saat berupaya mempercepat penghematan biaya.

PerusahaanPosisi Berpotensi TerdampakPeriode
Volkswagen50.000 pekerjaBelum disebutkan
AudiSekitar 50.000 karyawan di JermanHingga 2030
Total potensiSedikitnya 100.000 posisiBerdasarkan dua rencana

Tekanan biaya dan persaingan kendaraan listrik

Volkswagen mempertimbangkan pengurangan 50.000 pekerja untuk menekan biaya operasional. Audi sebelumnya juga telah mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 50.000 karyawan di Jerman secara bertahap hingga 2030.

Langkah tersebut muncul ketika persaingan kendaraan listrik China semakin ketat. Produsen dari China dinilai lebih cepat membawa model baru ke pasar serta memiliki struktur biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

CEO Volkswagen Oliver Blume menyebut perusahaan sedang menjalankan penyesuaian paling komprehensif dalam sejarahnya. Dalam memo kepada staf yang dikutip CNN, ia menyatakan jumlah tenaga kerja perusahaan telah tumbuh selama beberapa dekade hingga mencapai skala yang tidak lagi berkelanjutan.

Kinerja grup ikut menekan

Volkswagen Group membukukan laba operasional 3,5 miliar euro atau US$4 miliar pada kuartal II 2026. Laba tersebut turun hampir 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan juga mengubah target pendapatan tahun fiskal berjalan dari kenaikan hingga 3% menjadi kemungkinan penurunan hingga 3%. Saham Volkswagen Group tercatat turun lebih dari 30% dalam 12 bulan terakhir dan kembali melemah hampir 2% pada perdagangan Jumat siang waktu setempat.

Blume menilai industri otomotif kini menghadapi krisis geopolitik, konflik perdagangan, regulasi tinggi, serta pasar yang bergejolak. Kombinasi persoalan itu mempersempit ruang gerak perusahaan ketika harus mempertahankan daya saing.

Tuntutan perubahan semakin besar

Analis senior GlobalData Mark Hogan menilai Volkswagen memerlukan perubahan besar untuk dapat bersaing secara layak. Menurut finance.detik.com, tekanan tersebut datang bersamaan dengan keharusan meningkatkan efisiensi internal dan mempercepat inovasi.

Rencana pengurangan tenaga kerja kini bergantung pada kemampuan Volkswagen menavigasi penolakan serikat buruh dan ketentuan kesepakatan kerja yang berlaku. Persoalan itu menjadi bagian penting dari upaya grup menghadapi perubahan cepat di pasar kendaraan listrik global.

Baca Juga