Dua lembaga analis menempatkan target harga BBRI di atas posisi penutupan Rp3.120 pada Jumat, 14 Agustus 2026. JP Morgan memasang target Rp3.400, sedangkan KB Valbury Sekuritas mempertahankan target Rp4.010.
Perbedaan target tersebut mencerminkan optimisme terhadap peluang perbaikan BBRI, sekaligus perbedaan pendekatan valuasi yang digunakan. Bagi pasar, pelaksanaan strategi bisnis dan perkembangan kondisi ekonomi tetap menjadi penentu utama.
Dasar Perhitungan Target Harga
JP Morgan menaikkan rekomendasi BBRI menjadi overweight dengan asumsi PBV wajar 1,2 kali. Lembaga ini menggunakan return on equity 17,4%, tingkat bebas risiko 7%, biaya modal 15,4%, serta pertumbuhan terminal 7% dalam perhitungannya.
KB Valbury menggunakan Gordon Growth Model untuk menetapkan target Rp4.010. Target itu setara dengan PBV 1,8 kali berdasarkan proyeksi 2026.
Menurut KB Valbury, saham BBRI diperdagangkan pada PBV 1,2 kali. Posisi tersebut sedikit lebih rendah dari -2 standar deviasi pada level 1,5 kali.
Arus Asing Menguat Saat Harga Tertekan
Di tengah penilaian valuasi tersebut, BBRI menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar sepanjang 10-14 Agustus 2026. Investor asing tercatat mengakumulasi saham ini senilai Rp306,4 miliar.
Minat beli itu hadir ketika BBRI masih turun 0,32% dalam satu pekan. Namun, pada akhir perdagangan Jumat, saham bank tersebut bergerak naik 0,32% dan ditutup pada Rp3.120.
| Emiten | Pembelian Bersih Asing |
|---|---|
| BBRI | Rp306,4 miliar |
| TINS | Rp222,2 miliar |
| BBCA | Rp221,8 miliar |
| BBNI | Rp72,1 miliar |
| ANTM | Rp62,5 miliar |
Data Investor Daily menunjukkan BBRI mengungguli TINS dan BBCA dalam daftar pembelian bersih asing selama periode tersebut. Nilai transaksi BBRI pada penutupan Jumat mencapai Rp369,76 miliar dari 118,49 juta saham yang berpindah tangan.
Katalis Perbaikan dan Risiko
JP Morgan menilai masalah yang sebelumnya membebani BBRI mulai menunjukkan perbaikan. “Kini, masalah BBRI mulai diperbaiki, seiring perbaikan internal dan banyaknya program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah,” ujar JP Morgan.
Lembaga itu juga memperkirakan proyeksi keuangan BBRI dalam konsensus pasar dapat segera direvisi. Revisi tersebut berpotensi menjadi katalis bagi saham apabila pasar tetap menilai valuasinya murah.
KB Valbury melihat pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi sebagai salah satu pendorong potensial. Penyesuaian imbal hasil kredit secara moderat, penurunan cost of credit, dan pendapatan non-bunga yang kuat juga dapat mendukung PPOP.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang lemah dapat membatasi peluang perbaikan kinerja. Risiko lain mencakup rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, kenaikan pencadangan, sentimen domestik negatif, serta tekanan nilai tukar rupiah terhadap pasar.
Perkembangan kualitas aset akan menjadi salah satu indikator penting untuk dipantau berikutnya. Arus dana asing juga dapat memberi gambaran mengenai respons pasar terhadap prospek perbaikan fundamental BBRI.






