Dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kembali menempatkan pengawasan dapur Makan Bergizi Gratis sebagai perhatian utama. Badan Gizi Nasional telah mencopot kepala SPPG terkait dan menyegel dapur operasionalnya sebagai langkah administratif.
BGN bersama Dinas Kesehatan setempat serta Pemerintah Kabupaten Karo memeriksa sisa sampel lauk-pauk untuk mencari penyebab kejadian. Lembaga itu juga memastikan kondisi para siswa yang terdampak.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatra Utara Wilayah IV Zulkarnain Barus membenarkan insiden di SMAN 1 Berastagi. Penjelasan lebih lengkap belum disampaikan ketika proses evakuasi masih berlangsung.
Test Kit Menjadi Opsi Pengamanan Baru
Insiden tersebut mendorong BGN mempertimbangkan penggunaan test kit pada setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Alat itu dipelajari untuk memperkuat pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan.
Sudaryono menilai pemeriksaan organoleptik melalui penglihatan, penciuman, dan pencicipan belum selalu dapat menemukan semua sumber masalah. Test kit dengan bahan kimia tertentu dipertimbangkan untuk memeriksa kemungkinan arsen, makanan basi, maupun gangguan lain.
BGN mempelajari penggunaan alat tersebut dari sejumlah SPPG yang telah menerapkannya. Salah satu contoh yang disebut Sudaryono adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri.
1.300 SPPG Ditutup dalam Tiga Pekan
Di tengah evaluasi menyeluruh, BGN telah menutup sekitar 1.300 SPPG dalam tiga pekan sejak Sudaryono menjabat sebagai kepala lembaga. Penindakan menyasar dapur yang tidak memenuhi standar sistem BGN.
Jumlah tersebut berasal dari dua gelombang penutupan. Sekitar 800 SPPG ditutup pada tahap awal dan sekitar 500 SPPG lainnya menyusul.
| Gelombang | Jumlah SPPG | Status Penanganan |
|---|---|---|
| Tahap awal | Sekitar 800 | Ditutup |
| Tahap berikutnya | Sekitar 500 | Menyusul ditutup |
| Total | Sekitar 1.300 | Penertiban tiga pekan |
Sudaryono menegaskan status kepemilikan tidak akan memengaruhi penilaian terhadap dapur. BGN akan melihat kepatuhan terhadap sistem yang berlaku untuk seluruh SPPG.
“Ya, saya enggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa, punya siapa, saya enggak lihat. Saya lihat sistem,” kata Sudaryono di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8).
Dapur yang Gagal Berbenah Terancam Permanen Ditutup
Evaluasi tetap menjadi tahap awal bagi dapur yang belum memenuhi ketentuan. Namun, dapur yang tidak dapat diperbaiki akan dihentikan operasionalnya secara permanen.
“Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” ujar Sudaryono. Penutupan tidak hanya terkait fasilitas, melainkan juga kegagalan menjalankan sistem yang ditetapkan BGN.
Penindakan dapat pula diarahkan kepada personel yang tidak mampu memenuhi standar tinggi lembaga. Mereka dapat dicopot atau diberhentikan dari status ASN PPPK.
Sudaryono mengingatkan bahwa satu kasus tidak mencerminkan seluruh program MBG. Dari sekitar 27 ribu dapur yang ada, ia menyebut sebagian besar telah bekerja dengan baik, sementara dapur yang belum memenuhi standar akan terus dievaluasi.






