Indonesia menargetkan Bursa Komoditas Strategis mulai beroperasi pada 2027 untuk memperbesar perannya dalam pembentukan harga komoditas sendiri. Rencana ini melengkapi agenda Danantara yang diarahkan untuk membuat kekayaan negara bekerja lebih produktif bagi transformasi ekonomi.
Selama ini, tantangan besar Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya alam dalam jumlah besar. Negara juga perlu memastikan nilai tambah dari nikel, tembaga, bauksit, minyak, gas, sawit, dan komoditas lain tidak lebih banyak dinikmati setelah bahan mentah keluar dari dalam negeri.
Harga Komoditas dan Transparansi Perdagangan
Bursa komoditas strategis diharapkan memberi Indonesia peran yang lebih besar dalam pembentukan harga komoditas yang dimiliki. Kebijakan itu menambah dimensi baru dalam upaya memperkuat posisi negara pada perdagangan sumber daya alam.
Pemerintah juga membentuk Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI untuk memperkuat transparansi transaksi ekspor komoditas sumber daya alam. Rosan Roeslani menyatakan langkah tersebut ditujukan agar perdagangan berlangsung lebih terbuka dan akuntabel.
| Instrumen | Informasi Utama | Tujuan |
|---|---|---|
| Danantara Sumber Daya Indonesia | Penguatan transparansi ekspor | Perdagangan komoditas yang akuntabel |
| Bursa Komoditas Strategis | Ditargetkan beroperasi pada 2027 | Peran lebih besar dalam pembentukan harga |
| Proyek hilirisasi Danantara | 13 proyek sekitar Rp116 triliun | Industrialisasi berbasis nilai tambah |
Kemampuan memengaruhi pembentukan harga berkaitan dengan posisi tawar suatu negara dalam hubungan ekonomi global. Posisi itu lebih mungkin menguat ketika Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga memiliki industri pengolahan yang kuat.
Danantara Memikul Agenda Industrialisasi
Danantara diposisikan sebagai badan pengelola investasi untuk mengarahkan aset negara kepada investasi dan transformasi ekonomi jangka panjang. Aset yang dikelola dapat mencakup perusahaan, infrastruktur, jaringan bisnis, kemampuan produksi, serta sumber daya bernilai ekonomi.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Danantara sebagai dana kekayaan negara yang dapat disejajarkan dengan lembaga serupa di dunia. Saat menghadiri satu tahun Danantara, ia mengatakan, “Kita bersyukur, kita sekarang sudah punya suatu badan yang bisa disetarakan dengan sovereign wealth fund di dunia.”
Rosan menyampaikan adanya 13 proyek hilirisasi bernilai sekitar Rp116 triliun pada April 2026. Menurut laporan Medcom.id, proyek itu menjadi langkah awal percepatan transformasi ekonomi yang berbasis pada penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Pengelolaan investasi negara tidak cukup jika hanya mengejar keuntungan dalam waktu singkat. Pembangunan industri membutuhkan kesabaran karena mencakup pembentukan fasilitas produksi, infrastruktur, teknologi, tenaga kerja, dan pasar.
Danantara menerapkan pendekatan investasi jangka panjang untuk investasi langsung maupun tidak langsung. Pendekatan tersebut menitikberatkan pada fundamental serta potensi pertumbuhan ke depan.
Kemandirian Bukan Berarti Menutup Pintu
Ekonomi yang merdeka tidak berarti Indonesia harus memproduksi seluruh kebutuhan sendiri atau menolak investasi dari luar negeri. Rantai pasok global tetap menghubungkan negara-negara melalui teknologi, bahan baku, tenaga kerja, investasi, dan pasar.
Yang menentukan adalah kemampuan Indonesia mengambil posisi yang lebih baik dalam kerja sama tersebut. Industri dalam negeri yang kuat memberi ruang lebih besar bagi negara untuk menentukan pilihan dan bernegosiasi.
Hilirisasi Sumber Daya Alam menjadi jalur untuk memperluas manfaat komoditas bagi perekonomian domestik. Ketika pengolahan berlangsung di dalam negeri, kegiatan ekonomi dapat menghasilkan pabrik, logistik, pemasok lokal, transfer teknologi, serta pekerjaan.
Prabowo berulang kali menekankan agar kekayaan negara dan sumber daya alam dikelola sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam kerangka itu, Danantara, transparansi ekspor, dan bursa komoditas menjadi bagian dari upaya mengubah kekayaan alam menjadi nilai ekonomi yang lebih luas.






