Karya Lokal Bisa Menembus 8 Miliar Pasar Dunia, AI Buka Ekspor hingga Rp 6,7 Triliun

Teknologi lokalisasi berbasis artificial intelligence berpotensi membawa karya Indonesia ke pasar global dengan nilai ekspor hingga Rp 6,7 triliun per tahun. Peluang itu muncul melalui penggunaan machine translation, subtitling, dan dubbing untuk menjangkau audiens lintas bahasa.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar meminta pelaku industri tidak membatasi ambisi pada pasar domestik. Menurutnya, produk kreatif Indonesia perlu dikembangkan untuk pasar dunia yang memiliki sekitar 8 miliar penduduk.

“Jangan mikirin cuma 280 juta orang, karena di dunia itu ada 8 miliar orang. Kita harus membangun untuk pasar global dan saya yakin kita mampu mencapainya,” ujar Irene.

Konten Memerlukan Investasi Jangka Panjang

Irene menilai hasil pengembangan Ekonomi Kreatif tidak selalu terlihat dalam satu kuartal. Ia mencontohkan kreator konten dunia MrBeast yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun skala audiens dan bisnis konten.

Konten yang dibuat lebih dari satu dekade lalu pun masih dapat menghasilkan pendapatan hingga sekarang. Karena itu, investasi pada kualitas talenta dan konsistensi pembangunan konten menjadi bagian penting dalam strategi industri kreatif.

AI dapat membantu pekerja kreatif mengurangi waktu pada pekerjaan tertentu, tetapi kualitas gagasan tetap menentukan daya saing produk. Pemanfaatan penuh AI generatif di sektor kreatif dan media diperkirakan dapat menghemat rata-rata 390 jam kerja per tahun.

Potensi AINilai EkonomiDampak
Lokalisasi karya IndonesiaHingga Rp 6,7 triliun per tahunPerluasan pasar ekspor
AI generatif di kreatif dan mediaHingga Rp 66 triliun per tahunHemat 390 jam kerja per tahun
Adopsi AI oleh UMKMHingga Rp 910 triliunLebih dari 510.000 pekerjaan baru

Potensi Besar dari UMKM

Selain membuka akses pasar internasional, AI UMKM menyimpan potensi ekonomi nasional yang jauh lebih besar. Laporan AI Economy Report yang disusun Public First memproyeksikan tambahan nilai hingga Rp 910 triliun apabila tingkat adopsi AI UMKM menyamai perusahaan besar.

Perluasan adopsi tersebut diperkirakan dapat menciptakan lebih dari 510.000 lapangan kerja baru. Pemerintah memandang teknologi perlu disertai kemampuan talenta, pemanfaatan data, serta penerapan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Irene menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI. Pemahaman fundamental mengenai teknologi itu diperlukan agar pelaku kreatif dan usaha dapat menciptakan nilai tambah dari penerapannya.

Kontribusi Sektor Kreatif Terhadap PDB

Pada 2024, sektor ekonomi kreatif tercatat menyumbang Rp 1.611,15 triliun atau 7,28% terhadap produk domestik bruto nasional. Pemerintah menargetkan kontribusinya naik menjadi 8% hingga 8,4% dari PDB pada 2029.

TahunKontribusiKeterangan
2024Rp 1.611,15 triliunSetara 7,28% PDB nasional
20298%–8,4% PDB nasionalTarget pemerintah

Kementerian Ekonomi Kreatif memperkuat kerja sama dengan Badan Pusat Statistik agar dampak AI dapat diukur lebih akurat. Pengukuran tersebut mencakup kontribusi terhadap pembentukan usaha, penciptaan pekerjaan, dan pertumbuhan nilai ekonomi kreatif.

Baca Juga