Saat AI Memudahkan Belajar, UPH Tekankan Panggilan Hidup Tak Bisa Diwakilkan Teknologi

Kemudahan AI dalam membantu belajar tidak boleh membuat mahasiswa menyerahkan nalar, kreativitas, dan kehidupan rohaninya kepada teknologi. Universitas Pelita Harapan menempatkan peringatan itu dalam UPH Festival 2026 untuk mahasiswa baru.

Gagasan utamanya bukan menolak teknologi, melainkan menggunakannya secara bertanggung jawab. Mahasiswa didorong tetap melihat pendidikan dan pilihan profesi sebagai bagian dari panggilan hidup untuk melayani sesama.

Teknologi Perlu Dikendalikan Manusia

Executive Dean College of Emerging Sciences UPH Rizaldi Sistiabudi mengatakan manusia perlu menyadari kodratnya sebagai Imago Dei saat menggunakan kecerdasan buatan. Ia mengingatkan AI tidak seharusnya dipakai untuk menghindari proses membaca, memahami, dan berpikir.

“AI adalah teknologi yang sangat canggih, tetapi jangan sampai kreasi dan critical thinking kita hilang,” ujar Rizaldi. Ia juga menilai teknologi dapat menjadi berhala bila membuat manusia bergantung dan lupa cara belajar.

Rizaldi menggambarkan batas penggunaan teknologi melalui contoh permintaan naskah doa kepada ChatGPT. Naskah semacam itu, menurutnya, tidak dapat menggantikan doa yang lahir dari hati serta persekutuan pribadi dengan Tuhan.

Pembekalan tersebut berlangsung di Karawaci pada 14 Agustus 2026 dengan tema Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform. Menurut Detikcom, acara ini diarahkan untuk membentuk calon pemimpin yang berintegritas, takut akan Tuhan, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Profesi Dipandang sebagai Ruang Pelayanan

Pendeta Jimmy Pardede, Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia Karawaci, menyampaikan bahwa pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari merupakan bagian integral dari panggilan Tuhan. Talenta setiap orang menjadi sarana menjalankan panggilan tersebut.

Perspektif itu dibawa ke sejumlah bidang melalui sesi yang membahas kesehatan, hukum, sains, hingga bisnis. Para pembicara menekankan penggunaan pengetahuan dan kuasa untuk melayani, bukan mengejar kepentingan diri sendiri.

PembicaraBidangPesan bagi Mahasiswa
Caroline RiadyKesehatanHormati martabat setiap pasien dalam sakit dan kelemahan.
Velliana TanayaHukum dan keadilanJaga integritas serta gunakan kuasa untuk melindungi.
Yohanes HalimSainsPahami batas sains dan hindari scientism.
Gracia Shinta S. UgutBisnisCiptakan nilai dan perbaikan bagi komunitas.

CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady membahas kesehatan dalam sesi Medicine, Suffering & Human Dignity. Ia menjelaskan sakit, disabilitas, dan kelemahan tidak menghapus nilai manusia sebagai pribadi.

“Setiap manusia memiliki martabat yang berasal dari Allah,” kata Caroline dalam keterangan tertulis pada 18 Agustus 2026. Pasien, menurutnya, layak dikasihi, dihormati, dan dilayani dengan belas kasih serta kebenaran.

Velliana Tanaya, yang juga menjabat Dekan Fakultas Hukum UPH, menyatakan hak serta martabat manusia tidak bergantung pada kekayaan dan status sosial. Ia mengingatkan kuasa tanpa tanggung jawab dapat melahirkan ketidakadilan.

Ia mengaitkan integritas dengan tindakan konkret, seperti tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, menepati janji, dan menyatakan kebenaran. Gelar, pengetahuan, serta posisi yang diraih kelak diharapkan tidak dipakai untuk mengeksploitasi orang lain.

Sains dan Bisnis Memiliki Batas Moral

Senior Pastor Christ Chapel Karawaci Yohanes Halim membedakan sains sebagai sarana memahami alam semesta dari scientism yang membatasi kebenaran hanya pada hal ilmiah. “Science bisa melakukan banyak hal, tetapi science tidak bisa menyelamatkan kita,” ujarnya.

Executive Dean College of Business and Technology UPH Gracia Shinta S. Ugut menyebut bisnis dapat menciptakan nilai tambah, kesejahteraan, dan perbaikan komunitas. Namun, ia mengingatkan uang menjadi masalah apabila berubah menjadi idol dan keserakahan menjadi pusat hidup.

Melalui rangkaian pembekalan itu, mahasiswa baru diajak membawa pertimbangan iman dan tanggung jawab moral ke dalam penggunaan teknologi maupun pilihan karier. AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti panggilan, penalaran, dan relasi manusia dengan Tuhan.

Baca Juga