Model maglev eksperimental di China mampu mencapai 800 km/jam dari keadaan diam dalam 5,3 detik, lalu berhenti secara terkendali sebelum lintasan berakhir. Kemampuan melaju dan mengerem dalam ruang terbatas menjadi bagian penting dari demonstrasi teknologi tersebut.
Kendaraan itu mencapai kecepatan puncaknya sekitar 600 meter setelah mulai bergerak. Setelahnya, sistem melakukan pengereman dalam jarak sekitar 200 meter pada lintasan pengujian sepanjang 1 kilometer.
Pengereman Sama Penting dengan Akselerasi
Kecepatan 800 km/jam berarti kendaraan bergerak sekitar 222 meter setiap detik. Dalam situasi ini, pengaturan kecepatan, stabilitas levitasi, dan ketelitian pengukuran harus bekerja sangat presisi.
Kesalahan kecil dapat menjadi persoalan besar ketika kendaraan bergerak pada kecepatan ratusan kilometer per jam. Karena itu, kemampuan berhenti terkendali menjadi parameter penting selain catatan kecepatan tertinggi.
Model yang diuji memiliki bobot 1.110 kilogram dan beroperasi di fasilitas East Lake Laboratory di Provinsi Hubei. Percepatan rata-ratanya diperkirakan sekitar 42 meter per detik kuadrat, atau lebih dari empat kali percepatan gravitasi Bumi.
Jarak dengan Kereta Komersial Masih Lebar
Catatan 800 km/jam belum menggambarkan kesiapan layanan transportasi publik. Model tersebut masih menjadi sarana riset untuk menguji komponen levitasi dan sistem propulsi pada kondisi ekstrem.
Layanan maglev komersial di China dan Jepang disebut berada di sekitar 320 km/jam. Sementara itu, layanan komersial tercepat di China beroperasi di kisaran 350 km/jam.
Kereta penumpang memerlukan standar yang lebih luas daripada kendaraan uji tanpa penumpang. Pengembang harus memperhitungkan kenyamanan terhadap gaya akselerasi, keselamatan, aerodinamika, pasokan energi, komunikasi, dan kondisi lintasan.
Infrastruktur maglev ultra-cepat juga perlu dibangun dengan akurasi sangat tinggi dalam jarak panjang. Biaya lintasan serta persyaratan keselamatan masih menjadi penghalang besar bagi penerapan praktisnya.
Memakai Levitasi dan Dorongan Elektromagnetik
Menurut laporan inet.detik.com, pengujian tersebut menggunakan levitasi elektromagnetik berbasis magnet permanen yang dipadukan dengan propulsi elektromagnetik. Sistem ini memungkinkan kendaraan melayang sedikit di atas lintasan tanpa roda yang terus bergesekan dengan rel.
Medan magnet berperan mengangkat dan mengarahkan kendaraan selama bergerak. Medan elektromagnetik di sepanjang lintasan menghasilkan dorongan maju sehingga hambatan mekanis dapat dikurangi.
Prinsip ini membedakan maglev dari kereta konvensional yang mengandalkan kontak roda dan rel. Meski demikian, pengurangan gesekan bukan berarti seluruh persoalan teknis untuk layanan penumpang telah teratasi.
Peningkatan Berlangsung Bertahap
East Lake Laboratory telah menaikkan rekor model uji yang sama sebanyak tiga kali dalam periode sekitar enam bulan. Pencapaian 800 km/jam mengikuti hasil sebelumnya pada Juni dan Juli 2025.
| Periode | Kecepatan Tercatat | Keterangan |
|---|---|---|
| Juni 2025 | 650 km/jam | Rekor awal model uji |
| Juli 2025 | 700 km/jam | Peningkatan berikutnya |
| Uji terbaru | 800 km/jam | Dicapai dalam 5,3 detik |
Rangkaian kenaikan itu menunjukkan fokus laboratorium pada sistem berkecepatan sangat tinggi. Namun, hasil pengujian masih perlu dibedakan dari kesiapan operasi kereta reguler dengan penumpang.
Platform tersebut juga berpotensi mendukung penelitian sistem peluncuran berkecepatan tinggi untuk kebutuhan antariksa. Secara konsep, propulsi elektromagnetik dapat memberikan kecepatan awal tanpa sepenuhnya bergantung pada mesin roket sejak tahap awal.
Dengan demikian, rekor terbaru ini terutama menegaskan kemampuan Teknologi Maglev dalam lingkungan pengujian. Tantangan untuk membawa manusia dengan aman dan nyaman tetap menjadi tahap yang berbeda dan jauh lebih kompleks.






