Tak Bergantung Terik Matahari, Sel Surya BRIN Bisa Memanen Cahaya di Ruangan

Sel surya tidak lagi hanya diproyeksikan bekerja di bawah terik Matahari. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Dye-Sensitized Solar Cells atau DSSC yang dapat memanen energi dari cahaya lampu serta sinar Matahari tidak langsung melalui jendela.

Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan energi surya pada ruang tertutup yang memiliki pencahayaan memadai. Teknologi ini dirancang sebagai alternatif pelengkap bagi panel surya silikon konvensional yang umumnya mengandalkan paparan Matahari langsung.

DSSC memiliki sensitivitas tinggi terhadap cahaya, sehingga dapat tetap menghasilkan listrik dalam kondisi pencahayaan yang tidak selalu kuat. Karakter ini membuatnya relevan untuk bangunan yang menerima cahaya dari lampu maupun bukaan jendela.

BRIN menempatkan pengembangan DSSC sebagai bagian dari persiapan infrastruktur energi masa depan. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan lembaganya terus mendorong terobosan teknologi hulu untuk memperluas pemanfaatan tenaga surya.

“BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional. Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC),” kata Arif.

Fasilitas pengujian di Serpong

Pengembangan teknologi ini ditopang fasilitas riset berskala internasional milik BRIN di Serpong, Tangerang Selatan. Fasilitas tersebut memiliki laboratorium fotovoltaik untuk mengembangkan, menguji struktur, dan menilai keandalan panel surya.

Laboratorium itu menjadi pusat pengujian agar teknologi yang dikembangkan dapat bekerja optimal di iklim tropis Indonesia. Pengujian tersebut penting karena kondisi panas, kelembapan, dan karakter pencahayaan di Indonesia berbeda dengan banyak wilayah lain.

Program teknologiFokus pengembanganTujuan
DSSCSel surya sensitif terhadap cahayaMemanen energi dari lampu dan sinar tidak langsung
Microgrid PLTSPLTS terintegrasi penyimpanan energiMenggantikan PLTD melalui dedieselisasi
Virtual Power PlantPembangkit listrik virtualMengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil

Riset tidak berhenti pada sel surya

Ekosistem riset BRIN juga mencakup pengembangan microgrid pembangkit listrik tenaga surya bersama PLN. Sistem ini diintegrasikan dengan penyimpanan energi dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan listrik sesuai kondisi lokal.

Microgrid tersebut disiapkan antara lain untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel dalam program dedieselisasi. Pendekatan ini menempatkan energi surya sebagai pilihan pasokan yang lebih mandiri bagi wilayah dengan kebutuhan kelistrikan setempat.

Riset tenaga surya juga menyentuh kebutuhan produktif, termasuk irigasi dan pertanian. Pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk sistem listrik berskala besar, melainkan juga untuk mendukung kegiatan ekonomi di tingkat lokal.

Di sisi lain, BRIN meneliti Virtual Power Plant atau pembangkit listrik virtual. Teknologi ini dipandang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis fosil dari sisi hulu sistem kelistrikan.

Arif menyebut inovasi tersebut berpotensi membentuk model bisnis kelistrikan baru. Pengguna akhir tidak semata menerima pasokan dari hulu, sementara operator dapat berperan sebagai fasilitator jual-beli listrik antarkomunitas.

Terkait target PLTS nasional

Pengembangan DSSC dan teknologi pendukungnya sejalan dengan rencana pemerintah mempercepat pembangunan PLTS di berbagai wilayah. Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS secara bertahap hingga kapasitas totalnya mencapai 100 gigawatt.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut pembangunan PLTS berkapasitas 30 GW dan penghentian pembangkit listrik tenaga diesel sebesar 13 GW pada 2026. Dalam pengantar pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 dan Nota Keuangan pada 14 Agustus, ia juga menyampaikan gambaran ideal setiap desa memiliki PLTS 1 megawatt apabila lahannya tersedia.

Potensi tenaga surya dinilai besar karena Indonesia memperoleh sinar Matahari hampir sepanjang tahun. Teknologi yang dapat memanen cahaya di dalam ruangan menambah pilihan pemanfaatan energi surya di luar pemasangan panel pada area terbuka.

Baca Juga