Lukisan merah di tebing Huashan bertahan lebih dari 2.000 tahun bukan hanya karena kualitas pigmennya. Peneliti menemukan jejak teknologi material yang memadukan unsur mineral dan organik untuk menciptakan lapisan cat sangat kuat.
Lapisan tersebut diduga membentuk ikatan kimia yang menyerupai batu kapur tempat gambar dibuat. Kondisi ini membuat pigmen menyatu erat dengan tebing, meski lokasi itu terpapar kelembapan, hujan lebat, dan musim monsun.
Mortar Kuno yang Mengunci Pigmen
Para pembuat gambar diperkirakan memulai proses dengan membuat lapisan dasar menyerupai mortar cair. Mereka diduga memanaskan tulang hewan, kotoran burung, batu kapur, dan cangkang untuk menghasilkan campuran berkalsium fosfat serta kapur tohor.
Setelah itu, air dan darah kemungkinan ditambahkan ke dalam material dasar tersebut. Pigmen merah kemudian diterapkan ketika lapisan mortar mulai mengering.
Merah pada lukisan berasal dari tanah liat lokal yang kaya oksida besi, bukan dari darah. Darah manusia dan hewan diduga berfungsi sebagai pengikat untuk membantu pigmen melekat di permukaan batu.
| Komponen | Fungsi | Hasil pada Lukisan |
|---|---|---|
| Tanah liat kaya oksida besi | Pigmen warna | Membentuk warna merah |
| Darah manusia dan hewan | Bahan pengikat | Membantu pigmen melekat |
| Kalsium fosfat dan kapur tohor | Dasar mortar | Mendukung pembentukan lapisan stabil |
Ikatan Organik dan Mineral
Protein dalam darah diperkirakan membantu biomineralisasi kalsium karbonat pada mortar. Kalsium karbonat itu kemudian membuat lapisan pengikat memiliki kemiripan kimia dengan batu kapur di sekitarnya.
Partikel pigmen menjadi seperti terperangkap dalam mineral yang terbentuk dan sulit terlepas dari dinding tebing. Studi dalam Journal of Archaeological Science menyebut mekanisme ini sebagai sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil.
Penjelasan tersebut menjawab pertanyaan tentang ketahanan Lukisan Cadas Huashan di lingkungan terbuka yang lembap. Bahan pengikat organik alami saja tidak diperkirakan bisa bertahan selama itu tanpa dukungan struktur mineral.
Kekuatan lapisan itu juga terlihat ketika sampel diambil dari beberapa bagian tebing. Peneliti perlu menggunakan bor listrik karena pigmen pada lokasi tertentu melekat sangat kuat.
Darah Manusia Mendominasi Sejumlah Sampel
Analisis protein menunjukkan sebagian mortar mengandung proporsi darah manusia yang sangat tinggi. Pada satu lokasi, sekitar 97 hingga 99 persen darah terdeteksi berasal dari manusia dan sisanya dari beberapa herbivora.
Sampel lain memiliki komposisi berbeda, yakni sekitar 61 persen darah manusia dan 39 persen darah sapi. Data ini menguatkan kemungkinan bahwa darah merupakan bahan yang sengaja dipakai dalam pembuatan lapisan lukisan.
| Lokasi Sampel | Darah Manusia | Darah Hewan |
|---|---|---|
| Lokasi pertama | 97–99% | 1–3% dari beberapa herbivora |
| Sampel lain | 61% | 39% darah sapi |
Peneliti juga mendeteksi prolactin-inducible protein dan lactotransferrin pada material pengikat. Kedua protein tersebut biasanya sangat rendah pada kebanyakan orang, tetapi dapat meningkat pada perempuan hamil tua atau menyusui.
Petunjuk ini dikaitkan dengan gambar perempuan hamil, hubungan seksual, dan alat kelamin laki-laki pada tebing. Namun, dugaan keterlibatan darah perempuan dalam ritual kesuburan belum dapat dipastikan.
Kawasan lukisan berada di Zuojiang Huashan Rock Art Cultural Landscape, Lembah Sungai Zuojiang, China. Karya tersebut dikaitkan dengan Kebudayaan Luoyue yang hidup sekitar 2.600 hingga 1.900 tahun lalu.






