Bukan Sekadar Tanah Merah, Teknik Kuno Huashan Menjaga Lukisan Tebing Tetap Utuh

Lukisan tebing Huashan tidak dibuat hanya dengan tanah liat berwarna merah. Penelitian pada fragmen cat mengungkap penggunaan lapisan pengikat dari kapur, kalsium fosfat, dan komponen darah manusia sebelum pigmen diterapkan.

Teknik tersebut diduga membuat warna merah bertahan lebih dari 2.000 tahun di tebing batu kapur China selatan. Protein serum manusia yang ditemukan dalam sampel memperkuat dugaan bahwa bahan organik itu menjadi bagian penting dari campuran kuno.

Teknologi Material di Balik Warna Merah

Warna pada gambar Huashan berasal dari tanah liat lokal yang kaya nano-hematit. Mineral itu menghasilkan karakter merah yang masih terlihat pada banyak permukaan tebing.

Namun, pigmen tidak ditempatkan langsung pada batu. Para perajin diduga lebih dahulu membuat lapisan dasar untuk menyiapkan bidang gambar dan memperkuat daya lekat warna.

Lapisan dasar itu mengandung kapur tohor, kalsium fosfat, dan darah. Ketika kapur bereaksi dengan karbon dioksida di udara, bahan tersebut membentuk kalsium karbonat yang lebih kuat.

Protein darah diduga membantu mineral membentuk struktur padat. Struktur itu kemudian mengunci partikel nano-hematit di atas batu kapur dan mengurangi risiko pigmen terlepas.

Bagian LukisanMaterial yang TerdeteksiManfaat dalam Proses
Dasar permukaanKapur tohor, kalsium fosfat, darahMembentuk lapisan pengikat
Warna merahTanah liat lokal kaya nano-hematitMewarnai gambar pada tebing

Bukti Diperoleh Tanpa Mengambil Cat dari Tebing

Tim peneliti menggunakan serpihan material yang telah jatuh dari tiga situs Huashan. Pendekatan tersebut menjaga lukisan asli agar tidak perlu disentuh atau dirusak untuk keperluan pengujian.

Sampel diperiksa melalui spektroskopi Raman, mikroskopi elektron, analisis inframerah, dan proteomik. Hasil pengujian memberikan data mengenai komposisi mineral sekaligus jejak protein dalam fragmen cat.

Menurut laporan Suara.com, analisis kimia mengidentifikasi kandungan kalsium fosfat pada campuran kuno itu. Uji proteomik juga menemukan protein serum manusia, yang menjadi landasan dugaan penggunaan darah sebagai pengikat.

Para peneliti mengajukan kemungkinan bahwa darah itu berasal dari perempuan yang baru melahirkan. Hipotesis tersebut terkait nilai kesuburan perempuan dalam tradisi Luoyue, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai sumber darahnya.

Ritual dan Kebutuhan Teknis Berjalan Bersama

Jika darah memang dipakai, material itu kemungkinan menjalankan fungsi teknis sekaligus simbolis. Di satu sisi, protein membantu ketahanan cat, sedangkan di sisi lain bahan tersebut dapat berkaitan dengan praktik ritual masyarakat pembuat lukisan.

Aspek ini membuat seni cadas Huashan penting dalam kajian teknologi material masa lampau. Studi yang dimuat dalam Journal of Archaeological Science menunjukkan pengetahuan kuno dapat menggabungkan unsur organik dan mineral secara efektif.

Kawasan Luas di Sepanjang Sungai Zuojiang

Kawasan seni cadas Huashan membentang sekitar 260 kilometer di sepanjang Sungai Zuojiang, Guangxi, dekat perbatasan China dan Vietnam. Lebih dari 80 lokasi di area itu memuat figur manusia, hewan, perahu, senjata, serta alat musik tradisional.

Gambar-gambar tersebut diperkirakan dibuat antara abad kelima Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Masyarakat Luoyue diyakini luas sebagai pembuatnya, dengan catatan sejarah yang menggambarkan mereka sebagai masyarakat matrilineal.

Ketahanan lukisan menjadi lebih menonjol karena Guangxi memiliki iklim monsun tropis yang panas dan lembap. Hujan deras musim panas, dua hingga tiga badai topan per tahun, serta suhu di atas 40 derajat Celsius terus menguji permukaan tebing.

UNESCO menetapkan kawasan Huashan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2016. Riset terbaru memberi dasar ilmiah untuk memahami mengapa warna merah di situs tersebut masih bertahan menghadapi lingkungan yang keras selama berabad-abad.

Baca Juga