Kecepatan olahraga bukan satu-satunya penentu jumlah kalori yang terbakar saat slow jogging. Dokter spesialis kedokteran olahraga mengingatkan bahwa berat badan, durasi, intensitas, dan efisiensi gerakan harus ikut diperhitungkan.
Karena banyak faktor bekerja bersamaan, slow jogging tidak dapat disebut otomatis lebih efektif membakar kalori daripada jogging berintensitas sedang. Belum ada bukti yang menunjukkan keunggulan tersebut bila waktu latihan dan karakteristik pelakunya sama.
Perbandingan Harus Melihat Kondisi Individu
Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS, menyampaikan bahwa angka penggunaan energi tidak bisa ditentukan hanya dari jenis latihan. Kondisi tiap individu dapat membuat hasil pembakaran kalori berbeda meski aktivitas yang dilakukan serupa.
Berat badan menjadi salah satu faktor yang disebutkan dalam penilaian tersebut. Selain itu, lama waktu latihan dan intensitas gerakan turut memengaruhi jumlah energi yang dipakai tubuh.
Efisiensi gerakan juga termasuk unsur yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, klaim mengenai olahraga yang paling banyak membakar kalori perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih lengkap.
“Kalori yang terbakar tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat badan, durasi latihan, intensitas, dan efisiensi gerakan,” kata dr Tata kepada health.detik.com pada Sabtu (18/7/2026). Pernyataan itu menjelaskan mengapa perbedaan tempo saja belum cukup untuk menentukan hasil latihan.
Slow Jogging Tetap Menggerakkan Otot Besar
Slow jogging dilakukan dengan kecepatan sangat santai, sekitar 3 sampai 5 km/jam. Kecepatan tersebut mendekati jalan cepat dan membuat aktivitas ini terasa lebih ringan dibandingkan lari pada tempo yang lebih tinggi.
Walau santai, gerakan yang dilakukan tetap berulang dan melibatkan otot-otot besar. Paha, bokong, serta betis bekerja selama seseorang mempertahankan langkah saat slow jogging.
Aktivasi otot besar tersebut menunjukkan bahwa slow jogging tetap merupakan aktivitas fisik. Namun, keterlibatan otot tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan kalorinya pasti lebih banyak daripada jogging dengan intensitas sedang.
Perbandingan itu perlu mempertimbangkan durasi serta karakteristik orang yang menjalankannya. Pada kondisi setara, dr Tata menyebut belum ada bukti bahwa slow jogging unggul dalam pembakaran kalori.
Kenyamanan Menjadi Daya Tarik
Meski tidak memiliki bukti keunggulan pada pembakaran kalori, slow jogging tetap mempunyai alasan kuat untuk dipilih. Tempo yang tidak terlalu membebani dapat membantu sebagian orang merasa lebih nyaman saat berolahraga.
Rasa nyaman itu dapat memberi ruang bagi pelaku untuk bergerak dalam waktu yang lebih panjang. Aktivitas yang terasa mudah dijalankan juga berpeluang lebih mudah menjadi bagian dari rutinitas.
“Yang justru menarik adalah karena terasa lebih nyaman, banyak orang akhirnya mampu berolahraga lebih lama dan lebih rutin,” ujar dr Tata. Kebiasaan yang terjaga dalam jangka panjang dinilainya dapat memberikan manfaat kesehatan lebih besar.
Pemilihan bentuk latihan tidak selalu harus berorientasi pada aktivitas yang paling berat. Aktivitas terbaik dapat berupa olahraga yang paling mungkin dilakukan secara konsisten oleh masing-masing orang.
Slow jogging pada akhirnya dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan tempo olahraga santai sambil tetap melibatkan kerja paha, bokong, dan betis. Klaim pembakaran kalori lebih tinggi daripada jogging biasa, bagaimanapun, belum didukung bukti yang disebutkan dokter.






