LNG Abadi Masela Siapkan Gas untuk Industri Nasional, Bukan Sekadar Ekspor

Proyek LNG Abadi Masela disiapkan bukan hanya untuk mengirim LNG ke pasar luar negeri. Pemerintah menetapkan minimal 60 persen produksi gas Blok Masela akan dialirkan untuk kebutuhan domestik, sementara ekspor dibatasi maksimal 40 persen.

Keputusan tersebut menempatkan proyek di Laut Arafura sebagai calon sumber energi sekaligus bahan baku hilirisasi nasional. Industri pupuk, pembangkit listrik, jaringan gas, dan beberapa perusahaan swasta masuk dalam arah pemanfaatan pasokan tersebut.

Lapangan Gas Abadi memiliki rencana produksi yang mencakup LNG, gas pipa, dan kondensat. Dengan komposisi itu, proyek Masela mempunyai pilihan keluaran energi yang tidak terbatas pada satu produk.

Komponen ProduksiVolumeKeterangan
LNG9,5 juta ton per tahun9,5 MTPA
Gas pipa150 juta kaki kubik standar per hari150 MMSCFD
Kondensat35.000 barel per hariProduksi harian

Kapasitas gas pipa memberi ruang bagi pemanfaatan untuk pengguna di dalam negeri. Sementara produksi kondensat menambah hasil proyek di luar LNG yang menjadi produk utama pengolahan gas.

Alokasi domestik masuk rencana pengembangan

Kementerian ESDM bersama SKK Migas telah memasukkan kebutuhan pasar domestik dalam Plan of Development Wilayah Kerja Masela. Pengaturan ini ditujukan untuk merespons potensi peningkatan permintaan gas dari industri, pupuk, dan pembangkit listrik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana pembagian pasokan kepada Presiden. Pernyataan itu disampaikan menjelang peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis. Menurutnya, kebutuhan domestik menjadi prioritas utama pengelolaan produksi lapangan gas tersebut.

Pasokan awal direncanakan mendukung pembangunan industri hilirisasi oleh PT Pupuk di wilayah itu. Setelah kebutuhan tersebut, pemerintah menyiapkan sebagian gas untuk PT PLN, PGN, serta beberapa perusahaan swasta.

“Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta,” kata Bahlil. Penyaluran itu diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar di daerah.

Lokasi dan infrastruktur proyek

Lapangan Gas Abadi berada di Wilayah Kerja Masela, sekitar 180 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura. Lokasi pengembangan berada pada kedalaman laut sekitar 400 hingga 800 meter.

Proyek memerlukan sistem pengeboran dan produksi bawah laut untuk mengambil gas dari lapangan. Fasilitas lain yang direncanakan mencakup FPSO, pipa gas ekspor sekitar 175 kilometer, serta kilang LNG di darat.

Rangkaian infrastruktur itu akan menentukan kemampuan proyek dalam mengolah dan menyalurkan gas. Kesiapan fasilitas dibutuhkan untuk melayani pengguna domestik sekaligus memenuhi porsi yang masih tersedia bagi pasar ekspor.

Wilayah Kerja Masela memiliki PSC yang berlaku sejak 1998 sampai 2055. Proyek LNG Abadi Masela juga tercatat sebagai Proyek Strategis Nasional yang disiapkan sebagai salah satu sumber gas penting Indonesia.

Teknologi pengurangan emisi

Pengembangan LNG Abadi Masela direncanakan menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS dalam proses produksi LNG. Teknologi ini disiapkan untuk mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam transisi energi pemerintah.

Realisasi penyaluran 60 persen gas ke dalam negeri tetap bergantung pada kesiapan proyek dan fasilitas pengolahan. Kemampuan industri, pembangkit, serta pengguna lain dalam menyerap gas juga akan menentukan pelaksanaan alokasi tersebut.

Baca Juga