Mengurangi waktu bermain demi mengejar target akademik dapat membuat anak kehilangan ruang belajar yang penting. Bermain membantu mereka memahami sebab-akibat, mengasah gerak tubuh, serta belajar hidup bersama orang lain.
Peringatan Hari Anak kembali menempatkan masa kecil sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari persiapan masa depan. Anak tidak hanya membutuhkan materi pembelajaran formal, tetapi juga kesempatan untuk bereksplorasi dan berimajinasi.
Dari Balok hingga Bermain Peran
Anak tidak memerlukan permainan yang selalu rumit untuk memperoleh manfaat perkembangan. Kegiatan seperti menyusun balok, menggambar, melompat, berlari, atau bermain peran dapat menjadi sarana belajar yang dekat dengan keseharian.
Menyusun balok mengajak anak menjaga fokus dan mencari solusi ketika hasil susunan belum sesuai keinginan. Permainan eksploratif juga mengenalkan hubungan sebab-akibat melalui pengalaman langsung.
Bermain peran membuka ruang bagi imajinasi anak. Situasi yang mereka bangun sendiri dapat mendorong terbentuknya pemikiran kritis.
| Aktivitas | Manfaat Utama | Aspek Perkembangan |
|---|---|---|
| Berlari dan melompat | Melatih koordinasi dan kebugaran | Fisik serta motorik kasar |
| Menggambar | Melatih keterampilan tangan | Motorik halus |
| Menyusun balok | Melatih fokus dan pemecahan masalah | Kognitif |
| Bermain bersama teman | Melatih berbagi dan pengelolaan emosi | Sosial-emosional |
Kajian Pentingnya Bermain untuk Anak Usia Dini dari Tunas IBLAM serta studi Manfaat Bermain untuk Perkembangan Pada Anak Usia Dini yang dirilis BERITA UPI memandang bermain sebagai sarana edukasi penting. Aktivitas ini berhubungan dengan perkembangan fisik, kemampuan berpikir, dan kecerdasan sosial-emosional anak.
Pengalaman Langsung di Luar Layar
Pertemuan dengan teman sebaya memberi anak pengalaman sosial yang berbeda dari belajar sendiri. Dalam permainan bersama, anak dapat berlatih berbagi hak, bernegosiasi, menaati aturan, dan merespons perbedaan.
Pengalaman tersebut mendukung tumbuhnya empati dan kemampuan berkomunikasi. Karena itu, ruang bermain fisik tetap dibutuhkan di tengah dominasi aktivitas digital.
Ruang di luar layar memungkinkan anak bergerak dan berinteraksi dalam pengalaman nyata. Anak juga memperoleh kesempatan untuk mengenali batas, tantangan sederhana, serta cara bekerja sama dengan orang lain.
PT Perfetti Van Melle Indonesia melalui Chupa Chups mengadakan aktivasi Hysteria di Dunia Fantasi atau Dufan, Ancol, Jakarta, pada Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan kampanye yang sebelumnya diadakan di Car Free Day Jakarta dan Taman Literasi.
Dufan dipandang sesuai dengan gagasan rekreasi luar ruang bagi anak dan keluarga. Selain mengikuti kegiatan, pengunjung memperoleh paket produk edisi terbatas dan cendera mata.
Zee Asadel hadir dalam kegiatan itu sebagai Brand Representative Chupa Chups Indonesia. “Menurutku, Chupa Chups punya cara yang kreatif dalam menghadirkan pengalaman,” katanya saat ditemui di area Dufan.
Waktu bermain pada akhirnya bukan lawan dari proses belajar. Aktivitas ini menyediakan pengalaman fisik, kognitif, dan sosial yang diperlukan anak selama masa tumbuh kembang.






