Saat Belanda Kekurangan Pasukan Eropa, Afrika Barat Direkrut untuk Perang di Nusantara

Tingginya kematian akibat penyakit tropis menjadi salah satu alasan Belanda mencari pasukan di luar Eropa untuk bertugas di Nusantara. Dari kebutuhan itu, ribuan pria Afrika Barat direkrut dan dimasukkan ke dalam tentara kolonial Belanda.

Rekrutmen berlangsung pada 1831 hingga 1872 dengan jumlah sekitar 3.000 sampai 4.000 orang. Mereka berasal dari Pantai Emas, wilayah yang kini dikenal sebagai Ghana, lalu ditempatkan di berbagai medan konflik kolonial.

Pasukan Lintaswilayah dalam Tentara Kolonial

Dalam catatan resmi pemerintah kolonial, serdadu Afrika tersebut disebut Zwarte Hollanders atau “Orang Belanda Hitam”. Sebutan Londo Ireng berkembang dalam pergaulan masyarakat untuk merujuk pada jejak keberadaan mereka.

Pembentukan pasukan ini mencerminkan cara Belanda menyusun kekuatan militer dari berbagai wilayah kekuasaannya. Selain menghadapi kondisi iklim dan medan yang berat, tentara kolonial digunakan untuk melawan perlawanan masyarakat lokal.

DataInformasiKonteks
1831–1872Masa rekrutmen dari Afrika BaratBerlangsung dari Pantai Emas.
3.000–4.000 orangPerkiraan jumlah yang direkrutMasuk dalam dinas militer kolonial Belanda.
Perang Padri dan Perang AcehKonflik penugasanPasukan Afrika Barat tercatat dalam operasi kolonial.

Sejarawan Ineke van Kessel mencatat periode rekrutmen tersebut dalam buku Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indie yang terbit pada 2005. Jalur kedatangan para prajurit ini tidak sepenuhnya sama.

Sebagian bergabung secara sukarela, sementara sebagian lainnya sebelumnya berstatus budak yang dibeli Belanda dari penguasa lokal di Elmina. Setelah sampai di Indonesia, mereka ditempatkan dalam operasi militer di sejumlah wilayah.

Jejak dalam Perang Padri dan Perang Aceh

Pasukan Afrika Barat tercatat dalam konflik kolonial, termasuk Perang Padri di Sumatera Barat serta Perang Aceh yang berlangsung panjang. Penempatan itu memperlihatkan bahwa mereka menjadi bagian dari operasi untuk memperluas dan memelihara kekuasaan Belanda.

Posisi mereka dalam sejarah tidak dapat dipisahkan dari sistem kolonial yang mengatur perekrutan, mobilitas, dan penggunaan pasukan. Karena itu, kisah Londo Ireng tidak hanya berbicara mengenai identitas, tetapi juga tentang struktur kekuasaan pada masa penjajahan.

Makna Londo Ireng Berubah

Istilah Londo Ireng menjadi populer setelah Perang Jawa berakhir, walau serdadu Afrika Barat direkrut setelah konflik tersebut. Pada awalnya, sebutan itu berkaitan dengan pasukan keturunan Afrika yang bertugas dalam tentara Belanda.

Memasuki abad ke-20, Londo Ireng lebih sering dipakai sebagai sindiran kepada pribumi yang dinilai berpihak kepada pemerintah kolonial. Makna yang bergeser itu membuat istilah tersebut memiliki dimensi sosial dan politik yang melampaui pengertian awalnya.

Keterlibatan Pasukan Minahasa

Pasukan pribumi di pihak Belanda telah terlihat dalam Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Dipanagara melawan Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Namun, keterlibatan mereka bukan bagian dari sejarah Londo Ireng dalam makna harfiah.

Ketika Dipanagara ditangkap, Belanda mengerahkan Serdadu Manado dari Minahasa. Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa menyebut jumlahnya mencapai 1.421 orang.

Mayor Tololiu Hermanus Willem Dotulong memimpin pasukan tersebut bersama tiga kapten, yakni Benjamin Thomas Sigar, D. Rotinsulu, dan Polingkalim. Pasukan itu menjadi contoh keterlibatan kelompok Nusantara dalam struktur militer kolonial.

De Kock menjebak Dipanagara dalam perundingan di kediaman Residen Magelang pada Maret 1830, sebelum menangkapnya pada 28 Maret 1830. Dipanagara diasingkan ke Manado, menulis Babad Dipanagara, lalu dipindahkan ke Benteng Fort Rotterdam hingga wafat pada 8 Januari 1855.

Menurut Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855), Perang Jawa juga merupakan perang sabil dan perjuangan memulihkan keadilan sosial di bawah Dipanagara sebagai Ratu Adil. Rangkaian kisah ini memperlihatkan lapisan hubungan yang rumit antara kolonialisme, perang, dan kelompok-kelompok yang terseret di dalamnya.

Baca Juga