Di Balik Andil 30% Susu Nasional, Lahan dan Populasi Sapi Jadi Beban Jabar

Hampir sepertiga produksi susu nasional berasal dari Jawa Barat, tetapi peternak di provinsi ini masih terbebani masalah mendasar. Keterbatasan lahan pakan dan kebutuhan meningkatkan populasi sapi secara cepat menjadi penghambat utama pengembangan produksi.

Situasi tersebut membuat tingginya andil Jawa Barat belum otomatis membawa Indonesia lebih dekat pada swasembada susu. Pemerintah menilai pembenahan di tingkat peternak perlu dipercepat untuk mengejar target swasembada pangan, termasuk susu, pada 2035.

Produksi Nasional Masih Terkonsentrasi

Jawa Barat berada pada posisi kedua dalam peta produksi susu nasional. Jawa Timur masih menjadi kontributor terbesar, sementara Jawa Tengah dan provinsi lain menyumbang bagian yang jauh lebih kecil.

WilayahPorsi Produksi Susu Nasional
Jawa TimurHampir 57,9%
Jawa BaratHampir 30%
Jawa TengahSekitar 9%
Provinsi lainSekitar 2%

Konsentrasi produksi pada sejumlah wilayah membuat kondisi peternakan Jawa Barat memiliki arti penting bagi pasokan nasional. Ketika pengembangan usaha di daerah ini tersendat, upaya menaikkan kapasitas produksi susu domestik juga menghadapi tantangan.

Pakan Ternak Memerlukan Ruang yang Memadai

Hanif Faisol Nurofik menyoroti keterbatasan lahan sebagai salah satu persoalan yang perlu segera dijawab. Kawasan peternakan banyak berada di wilayah tengah dan hulu, padahal lahan tetap dibutuhkan untuk mendukung penyediaan pakan ternak.

Masalah lahan juga berkaitan dengan biaya sewa yang dirasakan peternak. Dalam dialog di Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara atau KPSBU Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mahalnya sewa lahan untuk kebutuhan terkait pakan menjadi salah satu keluhan.

Biaya tersebut berpotensi menambah beban pengembangan usaha sapi perah. Tanpa dukungan pakan yang cukup, kemampuan ternak menghasilkan susu juga sulit ditingkatkan secara berkelanjutan.

Pertumbuhan Alami Dinilai Terlalu Lambat

Selain lahan, jumlah ternak produktif menjadi penentu penting dalam peningkatan produksi susu. Hanif menilai penambahan populasi sapi tidak dapat hanya mengandalkan proses alami karena target swasembada bisa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tercapai.

Intervensi pemerintah dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan sektor susu perah. Dukungan dapat ditempuh melalui berbagai skema pendanaan yang diarahkan bagi peternak sapi perah.

Penambahan sapi perlu dibarengi kemampuan peternak mengelola usaha secara baik. Karena itu, kebutuhan bimbingan teknis yang terstruktur juga menjadi bagian dari tiga pekerjaan rumah yang harus ditangani.

Rencana Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Peternak

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan telah menyiapkan peta jalan swasembada susu sapi perah. Hanif menekankan pentingnya menyelaraskan rencana operasional tersebut dengan keadaan nyata di lapangan.

Menurut Beritasatu, Hanif menyampaikan penilaian itu setelah berdialog dengan peternak di KPSBU Lembang. Dialog tersebut digunakan untuk menangkap persoalan yang dihadapi peternak secara langsung.

Koordinasi lintas kementerian dan lembaga akan diperkuat untuk menangani kendala yang saling berhubungan tersebut. Pembenahan lahan, pakan, pendampingan, dan populasi sapi menjadi penentu bagi Jawa Barat dalam mendukung target swasembada susu 2035.

Baca Juga