Tekanan di pasar logam mulia meluas pada perdagangan Selasa (18/8/2026), tidak hanya menimpa emas. Perak, platinum, dan paladium juga bergerak turun ketika investor menimbang kenaikan yield Treasury AS serta prospek kebijakan The Fed.
Emas spot melemah 0,5% menjadi US$ 4.391,14 per ons troi pada pukul 11.23 WIB. Emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 turun 0,6% ke US$ 4.446,70 per ons troi.
| Instrumen | Perubahan | Harga |
|---|---|---|
| Emas spot | Turun 0,5% | US$ 4.391,14 per ons troi |
| Emas berjangka AS Desember 2026 | Turun 0,6% | US$ 4.446,70 per ons troi |
| Perak spot | Turun 1% | US$ 65,11 per ons troi |
| Platinum | Turun 1,2% | US$ 1.748,56 per ons troi |
| Paladium | Turun 1,2% | US$ 1.317,01 per ons troi |
Perak spot turun 1% menjadi US$ 65,11 per ons troi. Platinum terkoreksi 1,2% ke US$ 1.748,56 per ons troi, sedangkan paladium turun 1,2% menjadi US$ 1.317,01 per ons troi.
Risalah The Fed Menjadi Fokus Pasar
Investor menunggu risalah rapat kebijakan The Fed untuk memperoleh petunjuk baru mengenai arah suku bunga. Ekspektasi suku bunga tetap menjadi salah satu penggerak utama harga emas.
Jika inflasi menjadi perhatian yang lebih besar, pasar dapat memperkuat perkiraan bahwa suku bunga akan bertahan tinggi. Situasi itu umumnya mengurangi minat terhadap emas meski logam tersebut dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.
Kenaikan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun memperjelas tekanan tersebut. Emas tidak menghasilkan pendapatan bunga, sehingga kenaikan yield memperbesar biaya peluang bagi investor yang memilih menyimpan logam mulia.
Surat utang dapat menjadi lebih menarik ketika menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Penilaian ini membuat pergerakan Treasury perlu diperhatikan bersamaan dengan respons pasar terhadap risalah The Fed.
Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Harga minyak mentah menguat setelah Iran menyatakan akan mengubah sikap militernya menjadi sepenuhnya ofensif. Langkah itu terjadi setelah upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang dengan AS tidak berhasil.
Washington menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara. Ketidakpastian kawasan dapat mempertahankan tekanan pada harga energi dan menambah kekhawatiran mengenai inflasi.
Analis ANZ Soni Kumari mengatakan minyak masih akan memengaruhi arah emas di tengah situasi Timur Tengah yang belum pasti. “Harga minyak akan tetap menjadi salah satu faktor utama yang menekan emas karena situasi di Timur Tengah masih terlihat tidak pasti,” kata Kumari kepada Reuters, seperti dikutip Beritasatu.
Pergerakan serentak pada emas dan logam mulia lain menunjukkan pasar sedang merespons beberapa risiko sekaligus. Yield Treasury, harga minyak, dan sinyal dari The Fed akan tetap menjadi faktor penting yang membayangi perdagangan logam mulia.






