Inter Milan mampu mengubah bayang-bayang kegagalan final Liga Champions menjadi dua gelar domestik pada musim 2025-2026. Hakan Calhanoglu menilai kebangkitan itu ditopang ketahanan skuad dan cara Cristian Chivu memperlakukan pemain secara personal.
Inter merebut Liga Italia serta Coppa Italia pada musim pertama Chivu. Pencapaian tersebut hadir setelah pengangkatannya sempat diragukan, terutama karena pengalaman kepelatihannya di level tertinggi masih terbatas.
Bangkit dari Tekanan Besar
Sebelum Chivu datang, Inter baru mengalami kekalahan pada final Liga Champions 2024-2025. Kondisi itu membuat perubahan di posisi pelatih menjadi perhatian besar ketika Simone Inzaghi meninggalkan klub untuk bergabung dengan Al Hilal.
Chivu kemudian ditunjuk pada musim panas 2025. Sebelumnya, pelatih asal Rumania tersebut hanya menjalani enam bulan masa kerja bersama Parma di Liga Italia.
Calhanoglu menyebut keraguan publik terhadap tim pada saat itu sangat besar. “Semua orang mengira Inter sedang, katakanlah sekarat setelah apa yang terjadi,” ujar gelandang tersebut seperti dilaporkan bola.kompas.com.
Menurut Calhanoglu, skuad Inter memiliki kemampuan untuk memberikan respons saat keadaan memburuk. Para pemain telah bermain bersama selama bertahun-tahun sehingga memahami cara menghadapi tekanan dan tidak mudah kehilangan arah.
| Kompetisi | Musim/Edisi | Pencapaian |
|---|---|---|
| Liga Italia | 2025-2026 | Juara |
| Coppa Italia | 2025-2026 | Juara |
| Liga Champions | 2022-2023 | Kalah di final |
| Liga Champions | 2024-2025 | Kalah di final |
Perhatian Personal Menjadi Pembeda
Di tengah tekanan itu, Calhanoglu melihat Chivu membawa pendekatan yang berbeda di ruang ganti. Sang pelatih dinilai tidak hanya menuntut pemain memahami sepak bola, tetapi juga memperhatikan kondisi mereka sebagai individu.
“Bersama Chivu, situasinya kini berbeda, dia lebih memedulikan individunya, bukan sekadar sepak bola. Perasaan Anda lebih diutamakan dan dia terbuka terhadap segalanya,” kata Calhanoglu.
Gelandang Turkiye tersebut menjelaskan bahwa Chivu tetap memberi arahan taktis dalam pertandingan dan latihan. Namun, keterbukaan di luar lapangan membuat pemain memiliki ruang untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi.
“Di luar sepak bola, dia seperti saudara atau teman. Anda selalu bisa membicarakan apa saja dengannya,” lanjut Calhanoglu. Ia juga mengungkapkan bahwa Chivu telah membantunya menyelesaikan sejumlah masalah.
Trofi Eropa Masih Dikejar
Dua gelar domestik belum menyelesaikan seluruh ambisi Inter. Calhanoglu menegaskan tim tetap ingin menjaga persaingan untuk scudetto dan terus mengumpulkan trofi.
Liga Champions menjadi target besar yang masih belum terpenuhi. Inter bersama Calhanoglu telah dua kali mencapai partai puncak, yakni pada edisi 2022-2023 dan 2024-2025, tanpa berhasil menjadi juara.
Calhanoglu telah lima tahun membela Inter dan meraih delapan trofi. Dengan fondasi mental skuad serta pendekatan Chivu, ia berharap Inter kembali memperoleh peluang untuk merebut gelar Eropa yang belum berhasil diraih.






