AI Detective Border Dikerahkan, AS Kejar Dugaan Pengalihan Barang China

Amerika Serikat mulai mengandalkan kecerdasan buatan untuk memburu dugaan pengalihan barang China melalui negara ketiga. Sistem bernama Detective Border dipakai untuk membantu memastikan komposisi dan pelabelan asal barang impor.

Langkah ini diambil setelah Gedung Putih menuduh lebih dari 40 negara membantu China menghindari tarif AS. Nilai perdagangan yang diduga dialihkan diperkirakan dapat mencapai US$303 miliar.

Detective Border digunakan oleh US Customs and Border Protection dalam pemeriksaan barang ekspor. Sistem tersebut diarahkan untuk mendeteksi apakah informasi asal produksi suatu barang telah dilaporkan secara tepat.

Penentuan negara asal menjadi penting karena berpengaruh terhadap tarif yang berlaku. Pemerintah AS menilai barang China dapat dikirim melalui negara yang memiliki tarif lebih rendah sebelum akhirnya masuk ke pasar Amerika.

Tarif dan nilai perdagangan yang dipersoalkan

Gedung Putih menyatakan pengalihan jalur perdagangan atau transshipment telah digunakan untuk menghindari tarif atas perdagangan senilai US$60 miliar. Perkiraan dari sejumlah laporan pemerintah dan sektor swasta menempatkan nilai perdagangan yang dialihkan pada rentang US$40 miliar hingga US$303 miliar.

IndikatorNilaiPenjelasan
Nilai yang disebut menghindari tarifUS$60 miliarTercantum dalam laporan Gedung Putih
Estimasi pengalihan perdaganganUS$40 miliar–US$303 miliarBeragam laporan pemerintah dan sektor swasta

Kanada, Meksiko, Jepang, dan Uni Eropa menjadi beberapa pihak yang disorot dalam tuduhan Washington. Pemerintah AS tidak memaparkan secara rinci keterlibatan tiap negara maupun transaksi tertentu yang menjadi dasar sorotan itu.

Peter Navarro, Kepala White House Office of Trade and Manufacturing Policy, menyatakan praktik tersebut telah memakai metode yang “sangat canggih” sejak 2018. Tahun itu menjadi awal pemberlakuan tarif terhadap produk China oleh Amerika Serikat.

Navarro melihat perbedaan tarif antarnegara sebagai pendorong perubahan rute pengiriman. Ia menegaskan isu yang diselidiki bukan sekadar pelabuhan asal, tetapi kemungkinan perubahan perlakuan tarif melalui negara transit.

“Selama bertahun-tahun, penipuan transshipment besar-besaran ini telah memungkinkan China mencuci ekspornya ke lebih dari 40 negara, merampok Departemen Keuangan kami hingga puluhan miliar dolar dan mencuri gaji pekerja Amerika,” kata Navarro. Ia juga menilai negara lain seperti India dan Vietnam dapat menempuh pola yang sama jika menghadapi tarif tinggi dari Washington.

Aturan asal barang masih disusun

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan ketentuan untuk membatasi transshipment sudah dimasukkan dalam sejumlah kesepakatan perdagangan. Kebijakan itu berkembang setelah Donald Trump menerapkan tarif global yang disebut Liberation Day tahun lalu.

USTR masih menyiapkan rules of origin sebagai dasar untuk menentukan lokasi produksi yang sebenarnya. Aturan asal barang tersebut akan dipakai dalam menetapkan tingkat tarif bagi suatu produk.

Greer mengatakan manfaat dari kesepakatan tarif seharusnya diterima oleh negara yang benar-benar menyepakatinya. Menurut dia, eksportir yang tidak beritikad baik dapat mengambil keuntungan tanpa memenuhi ketentuan asal barang yang semestinya.

Pengawasan baru ini hadir ketika hubungan perdagangan AS-China tetap tegang meski keduanya telah menyepakati gencatan perdagangan selama satu tahun. Washington juga menyampaikan kekhawatiran mengenai komitmen Beijing agar tidak memperlambat ekspor logam tanah jarang ke AS.

Kekhawatiran itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent bersama Greer kepada Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. China juga menghadapi kebijakan keamanan nasional baru dari AS, termasuk keputusan Federal Communications Commission yang melarang impor robot asal China.

Baca Juga