Musim panas tidak otomatis membuat kadar vitamin D tubuh kembali mencukupi. Studi Newcastle University menemukan lebih dari 72 persen peserta dewasa berusia di atas 18 tahun dengan kulit lebih gelap masih memiliki kadar vitamin D di bawah ambang batas.
Temuan itu menyoroti keterbatasan paparan matahari sebagai satu-satunya andalan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Kelompok lansia dalam penelitian yang sama juga menunjukkan kondisi serupa, dengan lebih dari separuh peserta memiliki kadar di bawah ambang batas.
Penelitian tersebut melibatkan 299 orang dan berlangsung dari Desember 2024 hingga Agustus 2025. Peserta dibagi ke dalam kelompok orang berusia di atas 65 tahun serta orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun dengan kulit lebih gelap.
| Kelompok Peserta | Karakteristik | Kadar Vitamin D di Bawah Ambang Batas |
|---|---|---|
| Kelompok lansia | Berusia di atas 65 tahun | Lebih dari setengah peserta |
| Kelompok dewasa muda | Berusia di atas 18 tahun dengan kulit lebih gelap | Lebih dari 72 persen peserta |
Data tersebut memperlihatkan bahwa masalah kekurangan vitamin D tidak hanya terjadi ketika sinar matahari terbatas pada musim dingin. Bahkan pada bulan-bulan yang umumnya mendukung produksi vitamin D melalui kulit, banyak peserta belum mencapai kadar yang diharapkan.
Peneliti nutrisi Bernard Corfe menyebut hasil tersebut sebagai temuan yang mengejutkan. “Yang mengejutkan dari temuan ini adalah kadar vitamin D tidak membaik, bahkan di bulan-bulan musim panas ketika kita biasanya mengharapkan pemulihan,” kata Corfe, dikutip Science Alert.
Usia dan warna kulit memengaruhi produksi vitamin D
Vitamin D berbeda dari banyak vitamin lain karena tubuh dapat memproduksinya sendiri melalui kulit. Proses itu terjadi ketika kulit mendapat paparan sinar ultraviolet B atau UVB dari matahari.
Namun, kemampuan kulit membentuk vitamin D tidak sama pada setiap orang. Pertambahan usia membuat kulit kurang efisien memproduksi vitamin D, sehingga paparan matahari yang serupa dapat menghasilkan kadar berbeda pada kelompok usia yang berbeda.
Warna kulit juga menjadi faktor penting dalam penelitian ini. Melanin dapat berperan seperti tabir surya karena menghalangi sebagian sinar UV yang dibutuhkan kulit untuk menghasilkan vitamin D.
Dengan demikian, orang dengan kulit lebih gelap dapat menghadapi kondisi produksi vitamin D yang berbeda meski berada pada lingkungan dengan tingkat paparan matahari yang sama. Faktor ini sejalan dengan tingginya proporsi peserta dewasa berkulit lebih gelap yang tercatat berada di bawah ambang batas.
Lokasi geografis turut menentukan
Kekuatan sinar matahari di suatu wilayah juga memengaruhi peluang tubuh membentuk vitamin D. Persoalan kekurangan vitamin D kerap dibahas di kawasan utara bumi, tempat intensitas sinar matahari relatif lebih lemah.
Di negara-negara empat musim, musim dingin biasanya menjadi periode yang paling sering dikaitkan dengan terbatasnya produksi vitamin D dari kulit. Studi Newcastle University menunjukkan bahwa persoalan tersebut dapat berlanjut setelah musim dingin berlalu dan bulan-bulan cerah tiba.
Paparan cahaya matahari selama beberapa bulan dalam setahun belum tentu cukup untuk mendorong kadar vitamin D seluruh orang melewati ambang batas. Kondisi individu, termasuk usia dan melanin kulit, dapat membuat respons tubuh terhadap matahari sangat bervariasi.
Vitamin D dan berbagai aspek kesehatan
Vitamin D telah dikaitkan dengan sejumlah aspek kesehatan dalam berbagai penelitian. Meta-analisis yang diterbitkan pada 2022 mengaitkan kadar vitamin D yang lebih tinggi dengan gejala depresi yang lebih sedikit pada orang yang telah didiagnosis depresi.
Sejumlah ilmuwan juga meneliti kaitan vitamin D dengan risiko kanker dan diabetes yang lebih rendah. Meski demikian, penelitian mengenai hubungan tersebut masih terus berjalan dan belum menjadi jawaban tunggal untuk seluruh manfaat kesehatan vitamin D.
Hasil studi ini menegaskan bahwa hari yang cerah tidak dapat dipandang sebagai jaminan tunggal kecukupan vitamin D. Perbedaan usia, warna kulit, dan kondisi geografis membuat kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D dari matahari dapat berbeda jauh antarindividu.






