Pembelajaran di sekolah-sekolah terdampak gempa Flores akan dialihkan ke ruang aman atau tenda darurat bila bangunan kelas belum layak digunakan. Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat untuk menopang proses pemulihan pendidikan.
Pilihan penghentian pembelajaran sementara juga dapat diambil sesuai kondisi di lapangan. Kebijakan tersebut menempatkan keselamatan murid, guru, dan warga sekolah sebagai pertimbangan utama.
Gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menimbulkan dampak luas di Nusa Tenggara Timur. Dua murid dan satu guru dilaporkan meninggal akibat bencana tersebut.
Distribusi Bantuan Dibagi Dua Klaster
Pengiriman tenda dan perlengkapan pendidikan dilakukan melalui dua klaster logistik. Pembagian itu ditujukan untuk menjangkau tujuh kabupaten terdampak di Pulau Flores.
| Klaster | Muatan Utama | Wilayah Sasaran |
|---|---|---|
| Klaster 1 | 30 tenda dan paket bantuan pendidikan | Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat |
| Klaster 2 | 20 tenda | Ende, Ngada, Sikka, Nagekeo |
Klaster pertama mengangkut 30 tenda dari Jakarta dan Yogyakarta menuju Pelabuhan Labuan Bajo. Bantuan ini turut membawa 1.000 paket family kit, 200 paket school kit umum, serta 2.000 paket school kit bagi jenjang SMA dan SMK.
KM Dharma Rucitra 7 dijadwalkan berlayar dari Surabaya pada 20 Agustus 2026 dan tiba di Labuan Bajo pada 22 Agustus 2026. BGTK NTT akan mengelola bantuan melalui Posko Kemendikdasmen di Kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat.
Pemasangan tenda untuk klaster pertama direncanakan mulai 23 Agustus 2026. Tim Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus bersama Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana akan mengawal pengiriman, distribusi, dan pemasangan bantuan.
Untuk klaster kedua, 20 tenda dikirim dari BBPPMPV BOE Malang menuju Pelabuhan Ende. KM Dharma Rucitra 8 dijadwalkan berangkat dari Surabaya pada 21 Agustus 2026.
BPMP NTT akan menerima bantuan tersebut di Posko Klaster 2 di SKB Ende sebelum pendistribusian dilanjutkan. Dukungan ini ditujukan bagi sekolah-sekolah di Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.
Ratusan Sekolah Dilaporkan Rusak
Kemendikdasmen mencatat 253 satuan pendidikan mengalami kerusakan akibat gempa di tujuh kabupaten Pulau Flores. Wilayah itu mencakup Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
| Kewenangan | Jumlah Sekolah | Jenjang |
|---|---|---|
| Pemerintah kabupaten | 199 sekolah | PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB |
| Pemerintah provinsi | 54 sekolah | SMA, SMK, dan SLB |
Sebagian besar sekolah yang mengalami kerusakan berada dalam kewenangan pemerintah kabupaten. Data yang dilansir Detikcom menyebut kelompok tersebut mencakup satuan PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB.
Di tingkat kabupaten, Manggarai menjadi daerah dengan laporan kerusakan sekolah paling banyak, yakni 104 sekolah. Manggarai Timur menyusul dengan 52 sekolah, sedangkan Nagekeo mencatat 44 sekolah rusak.
| Kabupaten | Jumlah Sekolah Rusak |
|---|---|
| Manggarai | 104 sekolah |
| Manggarai Timur | 52 sekolah |
| Nagekeo | 44 sekolah |
| Ende | 39 sekolah |
| Ngada | 35 sekolah |
| Sikka | 27 sekolah |
| Manggarai Barat | 23 sekolah |
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan duka cita dan keprihatinan atas bencana tersebut. Kemendikdasmen telah berkomunikasi dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur untuk memastikan pendataan kerusakan dapat menjadi dasar penyaluran bantuan.
“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” ujar Abdul Mu’ti. Tim Revitalisasi Satuan Pendidikan mempercepat identifikasi sekolah rusak hingga 18 Agustus 2026.
Verifikasi lapangan dan penanganan melalui perjanjian kerja sama direncanakan pada pekan berikutnya. Kemendikdasmen juga menyiapkan dukungan psikososial bersama Himpunan Psikologi Indonesia setelah kondisi lapangan dikonfirmasi.
Starlink turut disiapkan untuk daerah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi. Tim lintas direktorat terus melakukan asesmen dan koordinasi agar layanan pendidikan di wilayah terdampak dapat segera dipulihkan.






