Balok-balok batu pasir berukir yang seharusnya dipakai untuk bangunan di Batavia justru berakhir di dasar laut Australia Barat. Muatan kapal Batavia itu kini mengungkap bahwa VOC mengandalkan jaringan pasokan Eropa yang luas dan terkoordinasi.
Penelitian terbaru menautkan batu tersebut dengan sedikitnya dua wilayah di Jerman modern. Temuan ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pembangunan kolonial dapat melibatkan perjalanan bahan dari tambang, pusat dagang, hingga kapal yang menuju Asia.
Dari Tambang menuju Pusat Perdagangan
Batu pasir itu diyakini berasal dari wilayah Bentheim dan Obernkirchen. Kedua wilayah tersebut berjarak sekitar 144 kilometer, sehingga muatan Batavia diduga dihimpun dari lebih dari satu sumber.
| Sumber yang Diduga | Jarak Antarlokasi | Peran dalam Muatan |
|---|---|---|
| Bentheim | Sekitar 144 kilometer dari Obernkirchen | Kemungkinan asal sebagian batu pasir |
| Obernkirchen | Sekitar 144 kilometer dari Bentheim | Kemungkinan asal sebagian batu pasir lainnya |
Setelah dihimpun, batu-batu itu diperkirakan dibawa ke pusat perdagangan VOC, kemungkinan Amsterdam. Bahan kemudian disiapkan dan dirakit sebelum ditempatkan di ruang palka kapal yang berlayar menuju Batavia.
Anthony Clarke, ilmuwan Bumi dan planet dari Curtin University, menilai proses itu menunjukkan kerumitan logistik VOC. Jaringan tersebut mencakup penambang, pemotong batu, pengangkut sungai, pedagang, dan pelaut.
Clarke serta Chris Kirkland menyatakan tidak ada dokumen yang tersisa untuk melacak seluruh perjalanan muatan secara lengkap. Namun, keduanya menilai bukti geologi memperlihatkan jaringan yang “canggih dan terkoordinasi” di Eropa barat laut.
Analisis yang Membaca Riwayat Batu
Peneliti menggunakan kristal zirkon di dalam batu pasir untuk menelusuri asalnya. Dalam studi yang dimuat di Journal of Archaeological Science, mineral tahan lama tersebut berfungsi sebagai penanda usia dan proses pembentukan batuan.
Hasilnya menunjukkan batu pasir dari Batavia tidak memiliki satu asal tunggal. Temuan ini memberi bukti material bahwa pengadaan bahan bangunan VOC telah terhubung ke beberapa wilayah sebelum barang dikirim ke Asia.
Kapal Andalan yang Karam
Batavia berangkat dari Belanda pada 29 Oktober 1628 sebagai kapal andalan VOC dalam pelayaran perdananya. Kapal bertiang tiga itu membawa 341 penumpang dan awak, termasuk muatan bahan bangunan untuk pusat kolonial di Hindia Timur.
Pada dini hari 4 Juni 1629, kapal tersebut menabrak karang di Kepulauan Houtman Abrolhos. Tabrakan di lepas pantai Australia Barat itu membuat kapal tenggelam bersama balok-balok batu pasir besar.
Sekitar 300 orang berhasil selamat dan mencapai pulau-pulau terdekat di kepulauan tersebut. Komandan kapal Francisco Pelsaert pergi mencari bantuan dengan perahu panjang bersama 40 pelaut dan perwira.
Pelsaert menempuh perjalanan hingga Batavia yang berjarak sekitar 2.993 kilometer dari lokasi karam. Dalam ketidakhadirannya, Jeronimus Cornelisz mengambil kendali atas kelompok penyintas di pulau-pulau itu.
Cornelisz, yang disebut telah merencanakan pemberontakan sebelum kapal karam, memimpin teror terhadap para penyintas. Pembunuhan, pemerkosaan, perbudakan, dan pengusiran terjadi terhadap pria, perempuan, serta anak-anak.
Penelitian lain yang dilaporkan inet.detik.com mengajukan kemungkinan bahwa kelaparan dan kelangkaan air menjadi katalisator pembunuhan massal. Psikolog budaya Jaco Koehler menilai kekerasan itu tidak semata-mata dapat dijelaskan sebagai pemberontakan yang telah direncanakan.
Kapal penyelamat tiba setelah sekitar tujuh minggu dan menghentikan kekerasan tersebut. Cornelisz bersama enam pengikutnya digantung di Long Island pada Oktober 1629, sementara pemberontak lain dibawa ke Batavia untuk dieksekusi.
Bangkai kapal Batavia ditemukan pada 1963 dan artefaknya kini disimpan oleh Western Australian Museum. Batu pasir dari kapal itu menambah lapisan baru pada sejarah Batavia, yakni jejak fisik tentang skala perdagangan dan pembangunan kolonial VOC.






