Megawati Menolak Merdeka Dianggap Biasa, Ingatkan Pilihan Pejuang Dulu adalah Mati

Megawati Soekarnoputri mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Ia menilai kesadaran itu penting karena para pejuang pada masa penjajahan pernah meneguhkan pilihan antara merdeka atau mati.

Karena itu, Megawati menolak anggapan bahwa teriakan “Merdeka” tidak lagi perlu disuarakan setelah Indonesia berdaulat. Baginya, pekikan tersebut tetap membawa pesan tentang keberanian, pengorbanan, dan kewajiban menjaga negara.

Pertanyaan tentang Penjajahan Kembali

Saat memimpin upacara HUT ke-81 RI di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026), Megawati bertanya kepada peserta tentang kemungkinan Indonesia kembali dijajah. Peserta yang hadir menjawab serentak dengan penolakan.

Megawati kemudian menegaskan bahwa salam “Merdeka” semestinya dijawab dengan kata yang sama dalam keadaan Indonesia telah bebas. “Tapi setelah karena kita sudah merdeka, maka kalau merdeka harus dijawab dengan ‘Merdeka!’ Jangan itu dilupakan,” katanya.

Pernyataan itu juga menjadi jawaban atas kritik yang pernah diarahkan kepadanya. Presiden ke-5 Republik Indonesia tersebut mengatakan ada pihak yang mempertanyakan alasan ia masih meneriakkan kata merdeka di ruang publik.

“Mengapa saya ketika sering meneriakkan kata merdeka, saya seperti dilecehkan? ‘Sudah merdeka tapi masih teriak-teriak merdeka’,” ujar Megawati dalam pidatonya.

Dari Istana Merdeka ke Salam Perjuangan

Megawati menjelaskan bahwa pemahamannya mengenai arti seruan tersebut diperoleh dari para tokoh pergerakan nasional. Tokoh-tokoh itu kerap berkumpul di Istana Merdeka pada masa Soekarno menjadi presiden pertama RI.

Ia pernah bertanya mengapa para pejuang begitu kuat menggunakan seruan merdeka. Jawaban yang diterimanya menunjukkan bahwa kata tersebut berangkat dari tekad untuk tidak hidup dalam belenggu penjajahan.

“Saya bertanya ‘Kenapa sih kok mesti teriak merdeka-merdeka?’. Oh karena kita pada waktu itu sudah mempunyai tekad ‘kalau tidak merdeka lebih baik mati’,” kata Megawati.

Pada masa perjuangan, satu orang akan mengucapkan “Merdeka” dan yang lain menjawab “mati”. Menurut Megawati, jawaban itu merupakan penegasan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan meski nyawa menjadi risikonya.

Setelah kemerdekaan tercapai, jawaban “mati” tidak lagi digunakan sebagai balasan salam tersebut. Namun, semangat yang terkandung di dalamnya tetap harus dipelihara sebagai pengingat atas perjuangan membebaskan Indonesia.

Bukan Hanya Upacara Tahunan

Megawati meminta peserta tidak membatasi makna kemerdekaan pada upacara 17 Agustus. Ia mengajak masyarakat untuk memikirkan tujuan Indonesia merdeka dan arah bangsa pada masa mendatang.

Ia juga meminta pesan tentang kecintaan kepada Negara Republik Indonesia disampaikan kepada keluarga dan teman. “Katakan ini kepada keluarga kalian, kepada teman-teman kalian,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Megawati menyinggung pengalaman penjajahan yang berlangsung lebih dari tiga abad. Masa tersebut, menurutnya, juga meninggalkan ketakutan bagi keluarga para pejuang, termasuk ibu yang ditinggal suami untuk berjuang.

“Tiga setengah abad bukanlah waktu yang sedikit,” kata Megawati. Ia membandingkan panjangnya masa penjajahan dengan usia kemerdekaan Indonesia yang memasuki 81 tahun.

Megawati menilai perjalanan bangsa tidak semestinya diarahkan hanya untuk kepentingan pribadi atau kesenangan. Bangsa yang besar harus mampu melihat sejarah secara menyeluruh, baik bagian yang indah maupun bagian pahit yang masih memunculkan pertanyaan.

Ia menekankan bahwa darah para pejuang, harapan rakyat, serta cita-cita antargenerasi perlu tetap hidup dalam kesadaran nasional. Pesan itulah yang menurutnya membuat salam “Merdeka” terus relevan disuarakan.

Baca Juga