Rumah kompos di SD Negeri 068426, Kelurahan Nelayan Indah, menjadi sarana bagi siswa untuk melihat langsung perubahan sampah organik menjadi kompos. Kegiatan itu membuat pengelolaan limbah tidak berhenti pada kebiasaan membuang sampah di tempatnya.
Di sekolah pesisir di Kecamatan Medan Labuhan tersebut, sampah anorganik juga dipilah untuk didaur ulang menjadi karya kreatif. Seluruh kegiatan dijalankan dalam Program SEKAR atau Sekolah Kawasan Pesisir dari Pertamina Patra Niaga.
Belajar dari Sampah yang Dihasilkan Setiap Hari
Siswa terlibat dalam pemilahan sampah berdasarkan jenisnya sebagai bagian dari pembelajaran lingkungan. Mereka kemudian mempelajari perbedaan proses pengolahan antara material organik dan anorganik.
| Material | Langkah di Sekolah | Hasil Akhir |
|---|---|---|
| Organik | Dikumpulkan dan diolah melalui rumah kompos | Kompos |
| Anorganik | Dipilah lalu didaur ulang | Karya kreatif bernilai |
Pola praktik tersebut dirancang untuk menanamkan kebiasaan positif sejak dini. Anak-anak juga memahami bahwa benda yang dianggap tidak berguna dapat memiliki manfaat baru apabila dikelola dengan tepat.
Kepala SD Negeri 068426, Nurhayati, S.Pd, mengatakan program tersebut membantu siswa mengenali proses pengelolaan sampah secara nyata. Menurutnya, kolaborasi ini memberi ruang bagi anak-anak untuk memahami jenis material yang bisa didaur ulang.
“Program ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi para siswa dalam memahami cara memilah sampah, mengenali jenis sampah yang dapat didaur ulang, serta mengolahnya menjadi berbagai karya kreatif yang bernilai,” ujar Nurhayati dalam keterangan yang dikutip Medcom.id. Pernyataan itu menggambarkan pentingnya kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung.
Literasi Lingkungan untuk Anak Pesisir
Program SEKAR telah berjalan sejak 2025 sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Pertamina Patra Niaga. Sasaran utamanya adalah penguatan literasi lingkungan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan pesisir.
Pembelajaran tidak hanya berlangsung dalam bentuk materi di kelas. Siswa juga mengikuti penanaman vegetasi dan aksi bersih lingkungan untuk memahami keterkaitan kebersihan dengan keberlanjutan ekosistem pesisir.
Bagi anak-anak yang hidup di wilayah pantai, kondisi lingkungan sekitar merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pemahaman tentang dampak sampah terhadap kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dalam kegiatan sekolah.
Penghematan Listrik melalui PLTS
Selain pengelolaan sampah, sekolah juga menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS. Fasilitas tersebut menghemat biaya listrik sekitar Rp150.000 setiap bulan dan dapat digunakan sebagai sumber listrik cadangan saat pemadaman.
PLTS menjadi pelengkap dari praktik kepedulian lingkungan yang diterapkan di sekolah. Siswa dapat melihat contoh pemanfaatan energi surya di tengah kegiatan daur ulang, pengomposan, dan penghijauan.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebut pendidikan lingkungan sejak dini sebagai investasi bagi terbentuknya generasi yang peduli terhadap keberlanjutan. Ia menilai praktik langsung berpotensi menjadikan siswa agen perubahan di sekolah, keluarga, dan masyarakat pesisir.
“Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa upaya menjaga lingkungan perlu dimulai sejak dini,” kata Kitty dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 18 Juli 2026. Program ini diarahkan agar kebiasaan memilah sampah dan menjaga kebersihan terus tumbuh di kalangan siswa.






