Pemerintah India telah merealisasikan lebih dari 65% target penghimpunan dana dari penjualan saham BUMN tahun ini. Percepatan tersebut terjadi ketika pemerintah membutuhkan tambahan ruang anggaran di tengah tekanan defisit fiskal.
Target tahunan penjualan saham perusahaan negara ditetapkan sebesar 800 miliar rupee. Capaian saat ini menempatkan India pada jalur yang lebih kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Penjualan Tahun Ini Melampaui Pola Sebelumnya
India terakhir kali mampu mencapai target tahunan penjualan saham BUMN pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2019. Laju transaksi kali ini dinilai lebih besar dan lebih cepat daripada periode-periode terdahulu.
Selain menjadi sumber dana, sebagian aksi tersebut juga dilakukan untuk memenuhi aturan pencatatan di bursa. Pemerintah perlu memangkas kepemilikan pada sejumlah emiten agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sepanjang 2026, kepemilikan pemerintah telah dilepas pada 10 BUMN. Nama-nama yang tercakup antara lain Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India.
Salah satu transaksi divestasi terbesar tahun ini baru diselesaikan pada awal bulan ini. Penjualan berlangsung meski kondisi pasar saham sedang kurang bergairah.
| Kategori | Rincian Transaksi | Hasil |
|---|---|---|
| Life Insurance Corporation of India | Pelepasan 6,5% saham | US$3,3 miliar |
| 9 BUMN selain LIC | Divestasi sepanjang 2026 | Hampir 270 miliar rupee |
| Program tahunan | Target penjualan saham BUMN | 800 miliar rupee |
LIC Memberi Porsi Dana Terbesar
Transaksi terbesar berasal dari pelepasan 6,5% saham Life Insurance Corporation of India atau LIC. Pemerintah mengumpulkan US$3,3 miliar dari perusahaan asuransi jiwa terbesar di negara tersebut.
Penawaran saham LIC menggunakan diskon sekitar 10% dan mencatat permintaan yang melebihi jumlah saham tersedia. Nilai dana dari transaksi ini jauh lebih besar daripada hasil penjualan saham sembilan BUMN lain secara gabungan.
Prime Database mencatat sembilan perusahaan negara selain LIC menghimpun hampir 270 miliar rupee sepanjang 2026. Jumlah itu disebut sebagai hasil tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Respons investor terhadap LIC memberi sinyal bahwa saham perusahaan negara masih dapat menarik minat jika dipasarkan dengan valuasi yang lebih rendah. Bagi pemerintah, kondisi ini membuka peluang untuk melanjutkan penjualan aset saat kebutuhan pembiayaan meningkat.
Tekanan Fiskal Memperkuat Dorongan Divestasi
Reuters melaporkan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi tekanan anggaran dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan saham BUMN dipandang sebagai pilihan untuk mendukung pembiayaan pemerintah tanpa memperlebar defisit secara langsung.
Kekhawatiran muncul karena defisit fiskal India berpotensi melampaui target 4,3% dari PDB pada tahun ini. Dampak konflik Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah serta pelemahan penerimaan setelah pemangkasan tarif pajak tidak langsung menjadi faktor penekan.
Analis ANZ juga menilai kenaikan subsidi pupuk dan biaya pembayaran utang dapat memperlebar defisit hingga 0,3% dari PDB. Jika tekanan itu berlanjut, pelepasan saham perusahaan negara berpotensi menjadi instrumen yang semakin diandalkan pemerintah.
Realisasi yang sudah melewati 65% target memberi pemerintah modal awal untuk mengejar sasaran 800 miliar rupee. Arah program berikutnya akan sangat berkaitan dengan perkembangan kebutuhan anggaran dan kondisi pasar saham.






