Sektor Barang Baku Tertekan, IHSG Berisiko Kembali Menguji Level 6.130

Penurunan 2,93 persen pada sektor barang baku menjadi tekanan paling dalam yang mewarnai perdagangan saham Kamis, 13 Agustus 2026. Bersamaan dengan koreksi IHSG sebesar 1,13 persen, kondisi ini membuat level 6.130 masuk perhatian untuk perdagangan Jumat.

IHSG berakhir di level 6.301 setelah kehilangan 72,08 poin. Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan indeks masih dapat melemah secara terbatas dalam rentang 6.130 hingga 6.325.

Support 6.130 Menjadi Batas Bawah

Level 6.130 ditetapkan sebagai support, sedangkan 6.325 menjadi resistance IHSG. Dua area tersebut digunakan pelaku pasar untuk memantau respons indeks setelah tekanan jual pada sesi sebelumnya.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.130-6.325,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas. Pergerakan menuju batas bawah akan menjadi salah satu perkembangan yang dicermati selama perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026.

IndikatorNilaiStatus
Penutupan IHSG6.30113 Agustus 2026
Perubahan IHSG-72,08 poinTurun 1,13 persen
Support6.130Batas bawah teknikal
Resistance6.325Batas atas teknikal

Tekanan pada sektor barang baku ikut memperbesar penurunan indeks lebih dari satu persen. Pasar akan menilai apakah pelemahan sektor tersebut kembali memengaruhi arah IHSG pada sesi berikutnya.

Proyeksi pelemahan terbatas menunjukkan bahwa perhatian tidak hanya tertuju pada besarnya koreksi, tetapi juga pada kemampuan indeks bertahan di area support. Batas 6.325 menjadi level yang membatasi ruang penguatan berdasarkan proyeksi tersebut.

Yield AS Memberi Tekanan dari Luar Negeri

Selain sentimen domestik, pasar menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun. Yield tersebut melonjak hingga 4,683 persen setelah lelang obligasi senilai US$42 miliar.

Naiknya yield obligasi AS membuat investor tetap mempertimbangkan risiko global ketika menempatkan dana pada aset berisiko. Kondisi pasar surat utang ini menjadi salah satu faktor yang dapat menjaga kehati-hatian di pasar saham.

Pilarmas memproyeksikan Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga pada September seiring data inflasi yang stabil. Namun, sekuritas itu memandang penurunan yield dalam jangka pendek masih sulit terwujud.

“Apakah imbal hasil obligasi Amerika bisa kembali mengalami penurunan? Untuk jangka pendek, rasanya sulit pemirsa. Karena defisit yang masih besar, perang, serta inflasi yang masih berada di atas target The Fed,” ujar Pilarmas Investindo Sekuritas.

Defisit yang besar, perang, dan inflasi di atas target The Fed disebut sebagai faktor yang masih membebani arah imbal hasil obligasi AS. Perkembangan tersebut menjadi konteks eksternal saat IHSG berupaya menghadapi tekanan teknikal di dalam negeri.

Pasar Menanti RAPBN dan Kebijakan Motor Listrik

Pelaku pasar juga menunggu pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto. Agenda itu menjadi salah satu informasi domestik yang akan diperhatikan dalam menilai arah perdagangan.

Presiden Prabowo juga berencana memangkas bunga cicilan serta menekan uang muka motor listrik hingga nol persen melalui jaringan perbankan Danantara. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik yang penetrasinya disebut baru mencapai 1 persen.

Pilarmas menilai penghapusan uang muka dan penurunan bunga dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan motor listrik. Biaya pembelian awal disebut sebagai salah satu hambatan utama dalam memperluas penggunaannya.

Untuk perdagangan harian, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan PTRO, ANTM, dan PNLF sebagai saham yang dapat diperhatikan. Rekomendasi tersebut disampaikan ketika pasar memantau tekanan sektor barang baku, area 6.130, dan pergerakan yield AS.

Baca Juga