Retinopati diabetik dapat merusak mata secara perlahan tanpa keluhan yang jelas pada tahap awal. Pada saat pasien menyadari pandangannya menurun, kerusakan pembuluh darah retina dapat sudah berkembang cukup jauh.
Karena itu, penyandang diabetes perlu menjalani skrining mata tanpa menunggu gejala berat. Deteksi dini penting untuk membuka peluang penanganan sebelum gangguan tersebut berujung pada kebutaan.
Retina berada di bagian belakang bola mata dan memiliki pembuluh darah yang dapat terdampak oleh diabetes. Ketika kadar gula darah tidak terkontrol, pembuluh darah di mata termasuk bagian tubuh yang berisiko mengalami kerusakan.
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M menilai penurunan fungsi penglihatan pada usia lanjut tidak semestinya langsung dianggap normal. Ia menyatakan bahwa kebutaan akibat kondisi tersebut dapat dicegah.
Keluhan yang Dapat Muncul Bertahap
Pasien dapat mengalami perubahan penglihatan yang awalnya tampak ringan. Perubahan tersebut berpotensi diabaikan karena terjadi perlahan dan tidak selalu menghambat kegiatan pada awalnya.
| Jenis Gejala | Penjelasan |
|---|---|
| Penglihatan menurun | Pandangan terasa tidak setajam sebelumnya. |
| Warna kurang terang | Kecerahan warna dalam penglihatan berkurang. |
| Bintik hitam | Ada titik gelap yang muncul pada bidang pandang. |
| Pandangan berbayang | Objek terlihat tidak jelas atau disertai bayangan. |
| Sulit melihat malam hari | Gangguan penglihatan muncul saat pencahayaan rendah. |
Bayu menjelaskan bahwa sebagian besar pasien tidak menyadari risiko kerusakan pembuluh darah mata pada lima tahun pertama setelah mengalami diabetes. Hal itu menjadikan pemeriksaan rutin lebih relevan dibanding hanya mengandalkan munculnya keluhan.
Health.kompas.com menekankan skrining mata tidak perlu ditunda hingga kualitas penglihatan memburuk atau aktivitas sehari-hari terhambat. Pemeriksaan retina dapat membantu menemukan pasien yang memerlukan evaluasi dan pengobatan lanjutan.
Jalur Skrining dan Rujukan Sedang Diperluas
Kementerian Kesehatan telah memasukkan pemeriksaan diabetes ke dalam program cek kesehatan gratis. Masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut untuk melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala.
Selain itu, Kementerian Kesehatan sedang mengintegrasikan skrining retina di Puskesmas untuk pasien diabetes. Tujuannya adalah memperluas akses deteksi dini melalui layanan kesehatan primer.
Namun, penerapan program menghadapi keterbatasan jumlah dan persebaran dokter spesialis mata. Banyak Puskesmas belum memiliki layanan skrining retinopati diabetik yang aktif serta belum didukung perangkat kamera retina atau fundus camera.
Untuk menjawab hambatan tersebut, dibentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives atau DRIVE. Kelompok ini melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi dalam pengembangan serta implementasi studi layanan retinopati diabetik.
DRIVE mengandalkan tele-ophthalmology untuk membantu dokter umum dan perawat melakukan skrining di tingkat layanan primer. Pasien dengan hasil positif kemudian dapat dirujuk secara sistematis ke Rumah Sakit Umum Daerah untuk memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Direktur Akses, Komunikasi dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, menyatakan dukungan diberikan melalui pendanaan riset dan perancangan intervensi sistemik. Model tersebut diharapkan memperbaiki alur skrining dan rujukan agar penanganan penyelamatan penglihatan tersedia tepat waktu.
Komplikasi Tidak Berhenti di Mata
Prof. Em Yunir Sp.PD-KEMD menjelaskan kerusakan pembuluh darah akibat diabetes juga dapat terjadi pada ginjal. Diabetes kerap berjalan bersama kolesterol tinggi, obesitas, dan hipertensi yang dapat memperparah kerusakan organ.
Menurut Yunir, komplikasi diabetes dapat menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah. Risiko lintas organ itu memperlihatkan pentingnya pengendalian diabetes serta pemeriksaan komplikasi, termasuk pada mata, secara berkala.






