Panas bumi tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Di sejumlah wilayah kerja, energi tersebut juga dikembangkan menjadi sarana pendukung pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.
Langkah ini menjadi penting ketika Indonesia masih memanfaatkan kurang dari 12 persen dari potensi panas bumi nasional yang mencapai sekitar 24 gigawatt (GW). Pemanfaatan yang lebih luas dinilai dapat memperkuat kedaulatan energi sekaligus memberi nilai tambah di luar sektor kelistrikan.
Pemanfaatan untuk Pertanian dan Produk Lokal
Di Ulubelu, Lampung, PGE mengembangkan inovasi Melon Geothermal. Program tersebut memadukan pemanfaatan energi panas bumi dengan transfer pengetahuan bagi petani lokal.
PGE juga bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada di Lahendong, Sulawesi Utara, untuk mengembangkan pupuk booster Katrili. Pupuk ini menggunakan silika panas bumi dan ditujukan untuk meningkatkan hasil panen serta ketahanan tanaman sambil menekan biaya pupuk petani.
Di Karaha, Program Eco Eduwisata Kampung Kopi menghasilkan Pupuk COMBINE. Produk itu memanfaatkan brine panas bumi dan bahan organik yang tersedia secara lokal.
Manfaat langsung lainnya hadir di Kamojang melalui Geothermal Dry House yang dikembangkan petani bersama PGE sejak 2018. Fasilitas tersebut menggunakan uap buangan dari steam trap panas bumi sebagai panas alternatif untuk mempercepat pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan.
Pengembangan program-program itu memperlihatkan bahwa panas bumi dapat memberi manfaat di sekitar kawasan operasi. PGE menempatkan penggunaan langsung energi tersebut sebagai pelengkap bagi perannya dalam penyediaan listrik bersih.
Pasokan Listrik yang Stabil
Di sektor kelistrikan, panas bumi memiliki keunggulan karena mampu beroperasi selama 24 jam. Sumber energi ini tidak dipengaruhi perubahan cuaca dan berasal dari potensi yang tersedia di dalam negeri.
PGE memiliki sekitar 3 GW potensi panas bumi di wilayah kerjanya. Kapasitas terpasang yang dioperasikan mandiri oleh perseroan telah mencapai 727 megawatt (MW).
| Indikator | Capaian PGE |
|---|---|
| Potensi wilayah kerja | Sekitar 3 GW |
| Kapasitas terpasang mandiri | 727 MW |
| Produksi listrik semester I-2026 | 2.745 GWh |
| Availability factor | 99,71 persen |
| Capacity factor | 90,42 persen |
Pada semester I-2026, produksi listrik PGE mencapai 2.745 gigawatt-hour (GWh). Informasi yang dimuat Medcom.id menyebutkan produksi tersebut meningkat 13,62 persen secara tahunan.
Availability factor pembangkit PGE tercatat 99,71 persen, sementara capacity factor mencapai 90,42 persen. Angka itu menunjukkan kemampuan operasi pembangkit dalam menyediakan listrik secara konsisten.
Proyek Baru dan Agenda Kedaulatan Energi
PGE menyiapkan pengembangan panas bumi di Sumatra Selatan melalui PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4. Perseroan juga mengembangkan PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu.
Di Sulawesi Utara, proyek yang disiapkan meliputi PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit. Di Lampung, PGE mengembangkan Proyek Gunung Tiga sebagai bagian dari perluasan kapasitas energi bersih.
| Lokasi | Proyek |
|---|---|
| Sumatra Selatan | PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 |
| Bengkulu | PLTP Hululais Unit 1 dan 2 |
| Sulawesi Utara | PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit |
| Lampung | Proyek Gunung Tiga |
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan kedaulatan energi tidak hanya menyangkut terpenuhinya kebutuhan listrik. Ia menilai Indonesia perlu membangun kemampuan untuk mengandalkan sumber energi domestik yang kuat demi kesejahteraan masyarakat.
“Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia,” kata Ahmad Yani.
PGE menyatakan akan melanjutkan penjagaan keandalan operasi, percepatan pengembangan proyek, serta perluasan manfaat panas bumi. Arah tersebut menempatkan energi panas bumi sebagai penopang pasokan listrik sekaligus bagian dari pembangunan ekonomi nasional.






