Ingin Masuk Komunitas Olahraga tapi Minder? Psikolog Sarankan Pilih Cabang yang Nyaman

Keinginan bergabung dengan komunitas olahraga tidak perlu dimulai dengan mengikuti cabang yang paling ramai atau paling sering dipamerkan pencapaiannya. Psikolog olahraga Dian Wisnuwardhani menyarankan agar pilihan aktivitas disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan pribadi.

Langkah tersebut penting karena olahraga yang dipaksakan dapat menimbulkan rasa malu dan tekanan. Seseorang akan lebih mudah menikmati prosesnya ketika merasa cukup mampu untuk ikut belajar bersama komunitas.

Setiap Cabang Memiliki Pengalaman Berbeda

Lari belum tentu cocok untuk semua orang, terutama bila perhatian terus tertuju pada pace dan jarak tempuh. Dian mencontohkan bahwa bulutangkis dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman bagi sebagian orang karena permainan bisa dilakukan berdua.

Perbedaan karakter aktivitas itu dapat memengaruhi cara seseorang memandang kemampuannya. Cabang olahraga yang tepat seharusnya memunculkan dorongan untuk bergerak, bukan kecemasan karena merasa harus menyamai orang lain.

“Kita harus cari olahraga yang tepat sama kebutuhan kita sendiri. Lari nggak ok nih, tapi kalau bulutangkis ok banget,” kata Dian dalam acara detikSore, seperti dikutip health.detik.com.

Pilihan komunitas dapat mencakup kelompok lari, padel, tenis, atau cabang lainnya. Nilai utamanya bukan terletak pada jenis olahraga yang dipilih, melainkan pada suasana yang membantu anggota menikmati perkembangan diri.

Saat Rekam Aktivitas Berubah Menjadi Beban

Catatan jarak, pace, dan pencapaian yang dibagikan lewat Strava dapat memberi inspirasi bagi sebagian pengguna. Namun, informasi yang sama juga berisiko menciptakan tekanan bagi orang yang baru mulai aktif berolahraga.

Dian menyebut situasi ini sebagai Efek Strava. Perasaan minder dapat muncul saat pemula melihat capaian orang lain jauh di atas kemampuan yang sedang dibangunnya.

Contohnya, seseorang mungkin baru sanggup berlari 3 kilometer ketika pengguna lain telah membagikan lari sejauh 10 kilometer. Kondisi tersebut dapat membuat pemula ragu mengunggah aktivitas karena takut dianggap kalah.

“Kalau remaja itu biasanya langsung labil, langsung ‘duh gue kalah nih’. Hari ini dia udah 10 km, gue baru 3 km, mau posting malu,” ujar Dian.

Remaja perlu mendapat perhatian karena masih berada dalam tahap pencarian identitas. Perbandingan capaian dan respons dari media sosial dapat lebih mudah memengaruhi kepercayaan diri mereka.

Strava Juga Memiliki Sisi Sosial

Dian mengatakan riset di Amerika Serikat membahas potensi Strava dalam membantu membentuk identitas diri yang lebih baik. Aktivitas di aplikasi itu juga dapat meningkatkan identitas sosial serta cara pengguna menjalin relasi dengan orang lain.

Unggahan rekam olahraga dapat berfungsi sebagai personal branding. Lingkungan sosial pun dapat memberi dorongan agar seseorang lebih rutin melakukan aktivitas fisik.

Manfaat sosial tersebut tetap perlu ditempatkan secara seimbang. Tidak semua pengguna menerima paparan pencapaian orang lain sebagai motivasi, khususnya mereka yang masih belajar membangun kebiasaan olahraga.

Komentar dari pengguna lain di media sosial juga dapat menambah beban. Karena itu, angka pada aplikasi sebaiknya dipahami sebagai catatan pribadi, bukan standar mutlak untuk menilai kemampuan diri.

Olahraga untuk Merasa Lebih Baik

Dian menekankan pentingnya mencari aktivitas yang membangkitkan semangat dan membantu meningkatkan hormon endorfin. Tujuan ini lebih relevan daripada terus mengejar jarak atau pace yang ditampilkan orang lain.

Komunitas dapat menjadi ruang untuk hidup lebih sehat sekaligus memperluas relasi sosial. Agar manfaat itu terasa, olahraga perlu dikembalikan pada tujuan personal untuk menjadi lebih baik dan merasa bahagia.

Baca Juga