Glaukoma tidak dapat memulihkan penglihatan yang telah hilang akibat kerusakan saraf optik. Pengobatan yang tersedia berfokus mengendalikan tekanan mata agar kerusakan tidak terus meluas.
Fakta tersebut membuat deteksi dini menjadi bagian penting dalam perlindungan penglihatan. Semakin cepat kondisi ditemukan, semakin besar peluang mempertahankan fungsi penglihatan yang masih tersisa.
Penanganan glaukoma dapat disesuaikan dengan kondisi pasien. Dokter dapat memberikan obat tetes mata, terapi laser, maupun operasi untuk membantu menjaga tekanan di dalam bola mata tetap terkendali.
Obat tetes mata digunakan untuk menurunkan tekanan bola mata. Jika tekanan belum terkendali dengan obat, terapi laser dapat menjadi pilihan berikutnya.
Pada kasus yang lebih berat, operasi dapat dilakukan untuk menciptakan jalur baru agar cairan mata mengalir lebih baik. Prosedur Minimally Invasive Glaucoma Surgery atau MIGS juga tersedia dengan sayatan lebih kecil dan masa pemulihan yang relatif lebih cepat.
Kerusakan yang Sering Tidak Terasa
Glaukoma terjadi ketika saraf optik yang menghubungkan mata dengan otak mengalami kerusakan. Peningkatan tekanan di dalam bola mata umumnya berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kerusakan biasanya membuat penglihatan tepi makin terbatas dari waktu ke waktu. Namun, pada glaukoma kronis, perubahan itu dapat berlangsung lambat sehingga penderita tidak segera menyadari adanya masalah.
Penderita bahkan dapat merasa penglihatannya tetap normal pada tahap awal. Ketika lapang pandang mulai menyempit, kerusakan saraf optik yang terjadi sudah tidak dapat dipulihkan.
Consultant Ophthalmologist Asian Healthcare Specialist Singapore, Dr. Low Jin Rong, menilai kesadaran terhadap pemeriksaan dini perlu ditingkatkan di Indonesia. Ia menyebut glaukoma banyak ditemukan di Indonesia dan berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.
“Deteksi dini adalah kuncinya. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah kebutaan permanen,” kata Low dalam edukasi kesehatan mata Asian Healthcare Specialist Singapore di Jakarta, seperti dilaporkan Suara.com.
Pemeriksaan Sebelum Keluhan Muncul
Orang berusia di atas 40 tahun dianjurkan menjalani pemeriksaan mata rutin. Anjuran serupa berlaku bagi mereka yang memiliki riwayat glaukoma dalam keluarga.
Visual field test digunakan untuk mengukur luas lapang pandang. Sementara itu, Optical Coherence Tomography atau OCT dapat menilai kondisi saraf optik secara rinci dan mendeteksi kerusakan sebelum gangguan penglihatan dirasakan.
Glaukoma akut memerlukan perhatian lebih cepat karena gejalanya dapat muncul mendadak. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, muntah, penglihatan kabur, serta lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya.
Low meminta masyarakat tidak menunda pemeriksaan bila penglihatan kabur muncul bersama mual. “Kalau penglihatan mulai kabur disertai mual, segera periksa ke dokter,” ujarnya.
Prevalensi di Sejumlah Wilayah
Low menyebut angka kebutaan pada kelompok usia lanjut di Indonesia sekitar 3 persen. Beberapa wilayah juga mencatat prevalensi glaukoma yang tinggi.
| Wilayah | Prevalensi Glaukoma |
|---|---|
| Jawa Timur | 4,4 persen |
| Nusa Tenggara Barat | 4 persen |
| Sumatera Selatan | 3,6 persen |
Glaukoma berbeda dengan katarak yang umumnya dapat dipulihkan melalui operasi. Pada glaukoma, terapi diarahkan untuk menahan perkembangan kerusakan, bukan mengembalikan penglihatan yang telah hilang.
Karena gejalanya dapat tidak terasa dalam waktu lama, pemeriksaan berkala menjadi langkah yang relevan bagi kelompok berisiko. Penanganan yang dilakukan lebih awal dapat membantu mengurangi kemungkinan penyempitan lapang pandang berlanjut.






