Ketahanan energi dinilai menjadi syarat mendasar bagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mendorong percepatan diversifikasi menuju sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia.
Ketika aktivitas ekonomi meningkat, kebutuhan energi untuk industri dan kegiatan nasional juga akan bertambah. Pasokan yang dibutuhkan bukan hanya cukup, tetapi harus terjangkau, andal, dan semakin bersih.
“Syarat mencapai target pertumbuhan ekonomi adalah ketersedian energi yang cukup. Karena itu, kita harus memperkuat ketahanan energi dengan mempercepat diversifikasi menuju sumber energi terbarukan yang kita miliki sendiri,” kata Eddy.
Potensi Besar yang Harus Menjadi Proyek
Indonesia memiliki modal sumber daya yang besar berupa matahari, panas bumi, air, biomassa, dan sumber energi terbarukan lainnya. Eddy memandang sumber-sumber tersebut perlu diolah menjadi kekuatan ekonomi sekaligus industri nasional.
Persoalannya bukan hanya pada ketersediaan sumber daya, tetapi bagaimana mengubahnya menjadi proyek dan infrastruktur yang nyata. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi di tengah kebutuhan yang terus berkembang.
| Sumber atau Sektor | Peran yang Didorong |
|---|---|
| Matahari, panas bumi, air, dan biomassa | Sumber energi terbarukan nasional |
| Jaringan listrik | Penguatan infrastruktur kelistrikan |
| Kendaraan listrik | Pengembangan ekosistem industri baru |
Eddy menyebut pengembangan energi surya, panas bumi, hidro, bioenergi, jaringan listrik, dan ekosistem kendaraan listrik dapat menghasilkan dampak yang luas. Selain menekan emisi, sektor-sektor ini disebut berpotensi menarik investasi dan membuka lapangan kerja.
“Transisi energi adalah bagian dari strategi ekonomi. Ketika kita membangun energi surya, panas bumi, hidro, bioenergi, jaringan listrik dan ekosistem kendaraan listrik, kita bukan hanya mengurangi emisi, tetapi juga menciptakan investasi, lapangan kerja dan industri baru,” ujarnya.
Energi Bersih sebagai Arah Pembangunan
Eddy menilai pertumbuhan ekonomi tinggi tidak boleh mengabaikan prinsip pembangunan berkelanjutan. Transisi energi dipandang bukan sebagai agenda terpisah, melainkan bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih hijau.
Diversifikasi sumber energi juga penting agar kebutuhan nasional tidak terlalu bertumpu pada energi fosil. Pendekatan tersebut memungkinkan penguatan pasokan energi dilakukan bersamaan dengan perluasan penggunaan energi bersih.
Ia berharap APBN 2027 mendukung agenda itu melalui investasi energi terbarukan, pembangunan infrastruktur kelistrikan, pengembangan industri hijau, dan efisiensi energi. Ruang bagi inovasi dan investasi swasta juga dinilai perlu diperbesar.
Pernyataan Eddy disampaikan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, pada 17 Agustus. Ia mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap keberlanjutan, termasuk percepatan transisi energi.
Menurut Eddy, arah pembangunan ini dapat menghasilkan dua capaian sekaligus, yakni ketahanan energi dan energi bersih yang berkelanjutan. Semangat kemerdekaan pada usia 81 tahun, katanya, perlu diterjemahkan dalam penguatan kemandirian ekonomi dan energi.
Target pertumbuhan 6% pada akhirnya dinilai perlu ditempuh melalui fondasi energi yang lebih mandiri. Pengolahan sumber daya terbarukan di dalam negeri menjadi bagian penting dari arah tersebut.






