Makanan Program Makan Bergizi Gratis yang sudah tiba di sekolah tetap harus ditolak apabila dinilai tidak layak atau diragukan keamanannya. Badan Gizi Nasional (BGN) meminta makanan tersebut tidak dikonsumsi dan dikembalikan seluruhnya kepada SPPG.
Ketentuan ini berlaku bahkan ketika menu telah siap dibagikan kepada peserta didik. BGN menilai pengawasan keamanan pangan harus berlangsung sampai sebelum makanan disantap.
Sekolah Menjadi Titik Pemeriksaan Penting
Guru memiliki peran untuk memeriksa kondisi makanan yang diterima di satuan pendidikan. Pemeriksaan dilakukan sebelum pembagian agar peserta didik memperoleh makanan yang aman untuk dikonsumsi.
BGN mengharapkan guru melakukan pemeriksaan organoleptik terhadap menu yang akan dibagikan. Langkah tersebut menjadi bagian dari pengawasan kondisi makanan di lingkungan sekolah.
Apabila muncul tanda makanan tidak layak, proses pembagian harus dihentikan. Makanan tidak boleh tetap dikonsumsi oleh guru maupun peserta didik, termasuk bagian yang secara kasatmata terlihat baik.
Aturan ini menempatkan sekolah sebagai pihak yang dapat mencegah makanan meragukan sampai kepada penerima manfaat. Nilai gizi menu tidak cukup apabila unsur keamanannya belum dapat dipastikan.
Satu Komponen Bermasalah, Semua Menu Dihentikan
BGN menegaskan makanan dalam satu paket tidak dapat diperlakukan secara terpisah ketika ada komponen yang menimbulkan keraguan. Nasi, lauk, sayur, dan buah dalam paket yang sama harus ditangani sebagai satu kesatuan.
Kepala BGN Sudaryono memberi contoh situasi ketika hanya sayur yang berbau. Dalam kondisi tersebut, seluruh menu tetap tidak boleh dimakan.
“Kalau ditemukan tidak layak, misalnya ada lauk, ada sayur, ada buah, ada nasi, misalnya yang bau hanya sayurnya, harus tidak dikonsumsi semuanya,” tegas Sudaryono. Pernyataan itu disampaikan dalam Webinar Literasi Gizi dan Keamanan Pangan bagi Guru dalam Mendukung Program MBG pada Rabu (12/8).
Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar menekankan larangan tersebut berlaku tanpa pengecualian bagi bagian makanan yang tampak normal. Tujuannya adalah mencegah risiko kesehatan dari paket makanan yang keamanannya telah diragukan.
Pengembalian ke SPPG Diikuti Investigasi
Makanan yang dinilai tidak layak wajib dikembalikan secara utuh ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. BGN akan memeriksa dan melakukan investigasi lanjutan setelah makanan dikembalikan.
“Bagaimana kalau ditemukan tidak layak, wajib hukumnya tidak dikonsumsi dan dikembalikan kepada dapur SPPG. Kemudian nanti kami akan lakukan pemeriksaan,” ujar Sudaryono. Proses ini menjadi prosedur penanganan bagi makanan yang tidak dapat dipastikan keamanannya.
BGN juga menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap SPPG bila terdapat kelalaian yang berdampak pada keamanan makanan. Sikap tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pengawasan pelaksanaan MBG.
Keamanan Melampaui Pertimbangan Gizi
Program ini tidak hanya menuntut tersedianya makanan bergizi, tetapi juga makanan yang aman pada saat diterima dan dikonsumsi. BGN menempatkan kesehatan serta keselamatan penerima manfaat sebagai perhatian utama.
Karena itu, makanan bermasalah tidak boleh terus beredar atau dibagikan dengan alasan hanya sebagian komponennya yang terlihat bermasalah. Sekolah harus menghentikan konsumsi seluruh paket dan mengembalikannya untuk diperiksa.






