Legenda tentang kuku jempol kaki kanan menjadi salah satu unsur paling ganjil dalam Mutrion, film pendek karya Marco Cavazzin. Cerita berlatar Laguna Venesia ini mengantar Cavazzin memenangi penghargaan sutradara terbaik di Pardi di Domani, Locarno Film Festival.
Film tersebut mengikuti kepulangan Marco ke kawasan pulau tempat ia dibesarkan. Kepulangan yang seharusnya mempertemukannya kembali dengan asal-usul justru membuka rasa asing dan tekanan batin.
Seorang Pemuda yang Menjadi Pengecualian
Marco meninggalkan laguna saat berusia 20 tahun dan kembali empat tahun kemudian. Tokoh yang diperankan Manfredi Marini itu sejak kecil mendapat julukan Mutrion, yang berarti murung.
Dalam dunia film, ada keyakinan bahwa setiap warga laguna pada akhirnya akan kehilangan kuku jempol kaki kanan mereka. Marco belum mengalaminya, sehingga ia menjadi pengecualian di tengah komunitasnya sendiri.
Keadaan itu mulai berubah saat ia pulang. Sinopsis film menyebut sesuatu di dalam diri Marco perlahan retak, sementara lingkungan sekelilingnya turut mengaburkan batas antara kenyataan dan kegelisahan pribadi.
| Elemen | Rincian |
|---|---|
| Tokoh utama | Marco |
| Pemeran | Manfredi Marini |
| Julukan tokoh | Mutrion atau murung |
| Latar utama | Pulau-pulau di Laguna Venesia |
| Penghargaan | Sutradara terbaik Pardi di Domani |
Komunitas yang Terasa Semakin Jauh
Mutrion tidak mengandalkan pertengkaran terbuka untuk memperlihatkan konflik. Film ini membangun ketegangan lewat tuntutan diam dari lingkungan lokal dan keterisolasian kehidupan di pulau-pulau laguna.
Marco harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tempat yang dikenalnya sejak kecil dapat berubah menjadi ruang yang menekan. Keluarga, kebiasaan, dan lanskap lokal hadir sebagai bagian dari persoalan yang tidak mudah ia lepaskan.
Seluruh pengambilan gambar dilakukan di pulau-pulau Laguna Venesia. Karena itu, lokasi bukan hanya menjadi latar, melainkan elemen yang ikut membentuk tekanan psikologis dalam perjalanan tokoh utama.
Ritual dan Cerita Keluarga
Cavazzin menjelaskan dalam pernyataan sutradara bahwa film ini berangkat dari keinginan mengisahkan kepulangan serta upaya untuk kembali terhubung dengan sebuah tempat. Tempat itu, menurutnya, dapat terasa dekat sekaligus jauh seiring waktu.
Sutradara berusia 26 tahun tersebut menempatkan ritual, takhayul, dan cerita keluarga sebagai bagian penting dari identitas kolektif Laguna Venesia. Unsur-unsur itu membantu menjelaskan mengapa Marco tidak hanya berhadapan dengan masa lalu pribadi, tetapi juga dengan ikatan sosial yang lebih luas.
Etimo menangani produksi film ini dengan dukungan Veneto Film Commission. Cattive Produzioni bertugas mendistribusikan karya tersebut.
Menonjol dalam Seleksi 20 Film
Mutrion menjadi satu-satunya wakil Italia dalam seleksi yang mencakup 20 film pendek dari berbagai negara. Karya peserta lain berasal dari Prancis, Inggris, Iran, Qatar, China, Taiwan, Amerika Serikat, dan Ukraina.
Juri kompetisi terdiri atas sutradara Lebanon Mounia Akl, produser Afrika Selatan Steven Markovitz, dan sutradara Italia Antonio Piazza. Yahoo melaporkan informasi kemenangan film ini dan daftar komposisi seleksinya.
Manfredi Marini, pemeran Marco, sebelumnya tampil dalam Nineteen karya Giovanni Tortorici, sedangkan Giulio Maroncelli turut membintangi Mutrion. Penghargaan tersebut memberi perhatian internasional kepada film yang menjadikan mitos lokal dan keterasingan sebagai inti kisahnya.






