Enam badak putih di Monarto Safari Park dipandang sebagai populasi cadangan yang dapat mendukung kelangsungan spesies dalam jangka panjang. Untuk memperkuat program perkembangbiakan itu, kebun binatang di Australia tersebut memakai cara yang tidak lazim, yakni glitter aman dikonsumsi.
Butiran glitter biru dan emas membantu penjaga mengenali feses dari masing-masing badak betina. Sampel yang tepat diperlukan untuk memantau siklus reproduksi dan membuka peluang mendeteksi kehamilan lebih dini.
Badak putih selatan berasal dari Afrika bagian selatan dan berstatus rentan. Ancaman terhadap spesies ini mencakup perburuan liar serta perdagangan ilegal bernilai tinggi untuk kebutuhan pengobatan tradisional yang tidak terbukti.
World Wildlife Fund memperkirakan sekitar 18.000 badak putih selatan masih bertahan di kawasan lindung dan cagar alam swasta. Populasi di Monarto memiliki arti penting karena spesies itu pernah kehilangan hampir 1.000 ekor per tahun akibat perburuan liar.
Feses sebagai Bahan Pemantauan
Program ini berfokus pada Carrie berusia 7 tahun dan Savannah berusia 15 tahun. Kedua badak hidup dalam satu kandang terbuka, sehingga kotoran mereka dapat bercampur di area yang dikenal sebagai midden.
| Badak | Usia | Metode yang Digunakan |
|---|---|---|
| Carrie | 7 tahun | Glitter bersama jerami lucerne |
| Savannah | 15 tahun | Glitter bersama jerami lucerne |
Glitter diberikan bersama segenggam jerami lucerne yang menjadi camilan favorit kedua satwa tersebut. Tim sempat menguji beberapa warna sebelum menetapkan biru dan emas karena paling mudah dikenali di dalam feses.
Supervisor hewan berkuku genap Haidee Kinter mengatakan petugas harus memeriksa setiap tumpukan untuk menemukan penanda berkilau itu. Ia menyebut feses yang mengandung glitter sebagai “kotoran disko”.
“Kamu harus memastikan saat membuka satu gumpalan besar kotoran badak yang indah, kamu bisa dengan mudah melihat bintik-bintik glitter yang berkilau itu,” kata Kinter, dikutip Kompas.com dari ABC News. Penanda tersebut membuat tim dapat menautkan hasil pemeriksaan ke individu yang tepat.
Kehamilan yang Sulit Dibaca dari Darah
Siklus reproduksi Carrie dan Savannah disebut cenderung berfluktuasi. Karena itu, pemeriksaan feses secara rutin dapat memberi gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi masing-masing badak.
Kinter mengatakan hasil uji darah tidak selalu langsung menunjukkan perubahan hormon pada awal kehamilan. Dalam beberapa kondisi, hormon belum mencapai tingkat terdeteksi setidaknya selama enam bulan pertama kebuntingan.
Pengujian feses dapat membantu mendeteksi kehamilan sedikit lebih cepat. Informasi tersebut juga berguna untuk menentukan waktu yang tepat dalam memperkenalkan pejantan kepada badak betina.
Monarto Safari Park bekerja sama dengan spesialis kesuburan Repromed untuk menguji sampel. Metode glitter pada Carrie dan Savannah mulai diterapkan sekitar enam hingga 12 bulan lalu setelah koordinasi dengan tim dokter hewan.
Metode yang Pernah Mendukung Kelahiran
Monarto pernah memakai pendekatan serupa untuk Uhura berusia 30 tahun dan Umqali berusia 35 tahun. Sejak 2005, tujuh anak badak telah lahir dari kedua induk tersebut.
Penandaan glitter juga bukan hanya digunakan pada badak. Metode serupa pernah diterapkan pada singa di Werribee Open Range Zoo, Victoria, serta beruang kutub di Assiniboine Park Zoo, Kanada.
Di Monarto, glitter sebelumnya juga digunakan pada anjing liar Afrika. Meski demikian, kebun binatang itu belum memiliki rencana untuk memperluas pemakaian metode tersebut kepada satwa lain dalam waktu dekat.






