KKN hingga Intervensi Militer Disorot, BEM UI Bawa 8 Desakan ke Jakarta

Korupsi, kolusi, dan nepotisme hingga intervensi militer di ruang sipil menjadi dua isu yang disorot BEM UI dalam demonstrasi di Jakarta. Mahasiswa membawa delapan desakan ke Bundaran Hotel Indonesia pada Selasa (18/08).

Aksi tersebut juga memuat tuntutan soal harga kebutuhan pokok, BBM, reforma agraria, dan pemulihan bencana. BEM UI menilai berbagai isu itu berkaitan dengan krisis kedaulatan serta dampak kebijakan negara bagi masyarakat.

Ruang sipil dan otonomi daerah

BEM UI meminta penghentian tindakan represif dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil. Massa juga menuntut pembubaran YON TP.

Mahasiswa turut menolak pemusatan kekuasaan dan mendesak pengembalian otonomi daerah. Tuntutan ini menempatkan kewenangan daerah sebagai salah satu perhatian dalam kritik yang mereka suarakan.

Di sisi lain, BEM UI meminta Sumatra dan Flores segera ditetapkan sebagai wilayah berstatus bencana nasional. Mereka juga mendesak percepatan pemulihan di kedua wilayah tersebut.

Masuknya isu Sumatra dan Flores memperluas fokus aksi yang berlangsung di pusat Jakarta. Demonstrasi itu tidak hanya membahas kebijakan nasional, tetapi juga penanganan wilayah terdampak bencana.

Desakan atas kebijakan ekonomi dan pembangunan

Dalam daftar tuntutan, BEM UI meminta penurunan harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak atau BBM. Massa menilai biaya hidup menjadi persoalan yang perlu segera ditangani.

BEM UI juga mendesak terwujudnya reforma agraria sejati dan evaluasi total terhadap proyek strategis nasional atau PSN. Selain itu, mereka meminta program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih dihentikan.

Tuntutan lain meminta pemerintah menghentikan apa yang disebut mahasiswa sebagai penjajahan negara terhadap rakyat sendiri. Penghentian KKN menjadi bagian penting dalam desakan yang dibawa massa.

BEM UI menyoroti suara rakyat yang dinilai dibungkam serta penegakan hukum yang dianggap tidak setara. Mereka juga mengangkat persoalan kelangkaan lapangan kerja dan janji pendidikan serta kesehatan gratis yang disebut belum terealisasi.

Pertanyaan tentang kedaulatan

Ketua BEM UI Yatalathof Imawan mengaitkan demonstrasi tersebut dengan peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Ia menilai kemerdekaan semestinya dirasakan seluruh rakyat, bukan hanya melayani kepentingan kelompok tertentu.

Yatalathof menyatakan kedaulatan negara telah tergadaikan lewat perjanjian dagang yang dinilai lebih menguntungkan pihak asing. Kritik itu menjadi alasan BEM UI untuk mempertanyakan arah kemerdekaan yang dirasakan masyarakat.

“Kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan? Kemerdekaan yang diperjuangkan pendiri bangsa 81 tahun lalu?” ujar Yatalathof. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian aksi di Bundaran HI.

WaktuPergerakan Massa
11.00 WIBBerangkat dari kampus UI di Depok
13.00 WIBTiba di Bundaran HI, Jakarta Pusat

Yatalathof mengonfirmasi massa berangkat dari kampus Universitas Indonesia di Depok sekitar pukul 11.00 WIB. Massa tiba di kawasan Bundaran HI sekitar pukul 13.00 WIB.

Mahasiswa dari Universitas Bung Karno dikabarkan juga akan ikut dalam demonstrasi tersebut. Rencana partisipasi itu diumumkan melalui media sosial BEM Fisip UBK.

Baca Juga