Dari OSIS hingga UI, Disiplin Nadira Menguat Setelah Kehilangan Ayah

Aktif di kepengurusan OSIS sambil menyiapkan ujian masuk perguruan tinggi membentuk kedisiplinan Nadira Gustina Hariati. Kebiasaan membagi waktu itu mengiringi langkah siswi SMAN 3 Solok Selatan tersebut hingga diterima di Teknik Industri Universitas Indonesia.

Kelulusan Nadira memiliki arti khusus karena diraih setelah ia kehilangan ayah. Sosok ayah sebelumnya menjadi inspirasi utama yang menguatkan semangat hidup dan pendidikannya.

Di tengah kegiatan sekolah, Nadira harus menjaga keseimbangan antara organisasi dan waktu belajar. Ia menilai pengalaman tersebut memberi bekal untuk menghadapi tahap pendidikan yang lebih tinggi.

“Dengan aku kayak gitu, aku bisa membentuk diri aku buat jadi disiplin dan bisa membagi waktu aku karena itu bakal berguna untuk aku kedepannya,” tutur Nadira.

Keinginan Menempuh Kuliah di Luar Sumatera

Universitas Indonesia semula tidak berada dalam daftar pilihannya. Kampus di Depok, Jawa Barat, itu terasa terlalu jauh untuk dijangkau dari daerah asalnya.

Namun, Nadira menyimpan keinginan kuat untuk tidak hanya melanjutkan pendidikan di sekitar Pulau Sumatera. Keinginan tersebut membuatnya tetap mencoba masuk UI.

“Aku juga nggak mau posisinya aku cuma seputaran di pulau aku. Jadi aku tetap mau buat keluar,” ujarnya. Pilihan menuju Teknik Industri UI menjadi bagian dari tekadnya memperluas langkah pendidikan.

Menjalani Masa Kehilangan

Kepergian ayah sempat membuat Nadira kehilangan semangat hidup. Ia mengakui motivasi belajarnya juga menurun setelah kehilangan sosok yang selama ini menjadi panutan.

“Memang yang selalu jadi inspirasi aku itu bapakku. Jadi setelah itu aku merasa kehilangan semangat hidup,” kata Nadira, seperti dilansir Detikcom.

Nadira kemudian berusaha tidak terus berada dalam kesedihan. Ia menyadari bahwa kehidupan tetap berjalan dan dirinya perlu kembali menata tujuan.

“Cuma aku mikir lagi, hidup kan terus berjalan dan aku nggak mungkin tetap di situ,” ujarnya. Proses untuk menerima keadaan itu, menurut Nadira, tidak terjadi secara instan.

Ia perlahan mencoba membangkitkan diri dan belajar ikhlas atas kehilangan tersebut. Upaya itu menjadi bagian dari perjalanan Nadira menjaga kembali semangatnya untuk belajar.

“Akhirnya lama kelamaan aku ikhlas. Nggak akan semua orang bisa ikhlas. Cuma aku mencoba untuk membangkitkan diri aku lagi,” katanya.

Kelulusan untuk Kedua Orang Tua

Bagi Nadira, diterima di UI bukan hanya tentang keberhasilan masuk kampus yang sempat dianggap jauh. Pencapaian itu ia persembahkan kepada ayahnya sekaligus ibunya yang terus membiayai dan mendukung pendidikannya.

“Masuk UI itu hadiah untuk papa. Karena orang tua mana yang gak mau anaknya benar-benar jadi orang,” ujar Nadira. Ia juga menyebut peran ibunya yang mengantarkan dan mendampinginya hingga berada di UI.

Kabar penerimaan Nadira sebagai mahasiswa baru disampaikan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru. Acara tersebut berlangsung di Stadion UI, Kampus UI, Depok, Jawa Barat, pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Langkah Nadira menuju Universitas Indonesia menjadi penanda bahwa ia mampu melanjutkan tujuan pendidikan setelah masa duka. Disiplin dari aktivitas sekolah dan tekad untuk keluar dari Pulau Sumatera menguatkan perjalanan itu.

Baca Juga