Hidup Dekat Permukiman, King Cobra Membawa Risiko Lumpuh dalam Hitungan Jam

King cobra dapat ditemukan tidak hanya di hutan dan rawa, tetapi juga di area sekitar permukiman. Ular berbisa ini dikenal agresif saat merasa terancam serta mampu menyuntikkan racun dalam jumlah besar.

Risiko perjumpaan perlu diperhatikan karena bisa king cobra dapat mengganggu saraf, jantung, dan pernapasan dalam hitungan jam. Racun tersebut bahkan disebut mampu melumpuhkan gajah Asia sekitar tiga jam setelah gigitan.

Habitat King Cobra di Indonesia

Di Indonesia, king cobra tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Spesies ini juga hidup di sejumlah wilayah Asia Selatan serta Asia Tenggara.

King cobra dapat menempati kawasan dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Habitatnya meliputi gua, hutan, rawa, semak belukar, lahan pertanian, dan lingkungan dekat permukiman.

Kemampuan beradaptasi pada banyak jenis habitat membuat keberadaan ular ini tidak terbatas pada wilayah hutan lebat. Area yang berdekatan dengan semak atau kawasan berhutan tetap perlu mewaspadai kemungkinan perjumpaan dengannya.

Racun Berpotensi Menghentikan Fungsi Tubuh

Bisa king cobra bersifat neurotoksik atau menyerang sistem saraf. Korban dapat merasakan sakit hebat, gangguan penglihatan, vertigo, dan kelumpuhan otot.

Kelumpuhan otot dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan dan kegagalan jantung. Kecepatan serta tingkat bahaya kondisi itu berkaitan dengan jumlah racun yang masuk ke tubuh korban.

King cobra disebut mampu menyuntikkan bisa hingga lima kali lebih banyak daripada mamba hitam. Volume racun tersebut menjadi salah satu alasan mengapa gigitannya dapat memicu dampak berat dalam waktu singkat.

Britannica menyebut racun king cobra dapat melumpuhkan gajah Asia dalam sekitar tiga jam setelah gigitan. Satu gigitan ular ini juga disebut berpotensi menyebabkan kematian hingga 10 orang.

Ciri Kobra Raja

King cobra atau kobra raja memiliki nama ilmiah Ophiophagus hannah dan merupakan anggota famili Elapidae. Dalam klasifikasi, spesies ini termasuk ordo Squamata, subordo Serpentes, serta genus Ophiophagus.

Di beberapa daerah Indonesia, king cobra dikenal dengan sebutan ular tedung, ular lanang, ular totok, atau ular tedong selor. Nama-nama itu digunakan di wilayah seperti Jawa dan Kalimantan.

Ular ini memiliki kepala besar, moncong pendek dan tumpul, serta pupil besar berbentuk bulat. Perisai oksipital besar juga berada di belakang sisik ubun-ubunnya.

Bagian atas tubuh king cobra biasanya cokelat kekuningan atau keabu-abuan, sedangkan kepalanya lebih terang. Bagian bawah tubuh dapat keabu-abuan atau kecokelatan, sementara dada dan leher berwarna kuning cerah atau krem.

Belang hitam dapat terlihat jelas saat king cobra membentangkan lehernya. Bagian tengah tubuh memiliki 15 deret sisik dorsal dengan 215 hingga 262 sisik ventral.

Patukan terhadap Pawang Ular

Bahaya king cobra juga tercermin dari dua kasus kematian pawang ular di Indonesia. Kedua korban dipatuk oleh king cobra yang mereka pelihara sendiri.

KorbanWaktu dan LokasiPeristiwa
Imam Rokhani, 49 tahun23 Oktober 2022, Gandusari, TrenggalekDipatok king cobra peliharaan selama lima tahun.
Dewa Rizky Achmad, 19 tahun8 Juli 2018, Palangkaraya, Kalimantan TengahDipatok saat atraksi dengan king cobra peliharaan di Car Free Day.

Imam Rokhani adalah warga Dusun Winong, Desa Ngrayung, Kecamatan Gandusari, Trenggalek. Ia meninggal setelah dipatuk ular peliharaannya pada 23 Oktober 2022.

Dewa Rizky Achmad meninggal di Palangkaraya pada 8 Juli 2018 setelah patukan terjadi saat atraksi. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa pengalaman menangani king cobra tidak menghilangkan risiko dari racun neurotoksik yang dibawanya.

Baca Juga