Keluhan Tubuh dan Pikiran Memang Terhubung, Tapi Tidak Semua Penyakit Berawal dari Stres

Hubungan antara pikiran dan tubuh memang nyata, terutama ketika seseorang berada dalam tekanan. Namun, keberadaan hubungan tersebut bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa semua penyakit fisik berawal dari stres.

Penyederhanaan itu berisiko membuat keluhan yang memerlukan pemeriksaan medis justru diabaikan. Psikiater mengingatkan bahwa penyakit, termasuk autoimun, dapat terbentuk melalui banyak faktor biologis dan lingkungan.

Respons Tubuh Saat Tertekan

Otak dapat mengaktifkan hypothalamic-pituitary-adrenal atau HPA axis serta sistem saraf simpatis ketika seseorang menghadapi tekanan. Proses tersebut mendorong pelepasan hormon dan mediator stres, termasuk kortisol serta katekolamin.

Dalam keadaan akut, respons ini merupakan mekanisme normal yang membuat tubuh lebih siap menghadapi ancaman. Tubuh idealnya kembali ke keadaan seimbang setelah situasi yang menekan berakhir.

KeadaanRespons utamaMaknanya bagi tubuh
Stres akutAktivasi HPA axis dan saraf simpatisMembantu tubuh merespons tekanan
Stres kronisPerubahan regulasi kortisol dan fungsi imunDapat berkaitan dengan gangguan keseimbangan tubuh

Masalah dapat muncul apabila tekanan berlangsung lama dan tubuh sulit pulih. Pada stres kronis, regulasi kortisol serta sensitivitas reseptor glukokortikoid dapat mengalami perubahan.

Keseimbangan sitokin juga dapat terganggu, sehingga respons inflamasi dan fungsi sel imun berisiko mengalami disregulasi. Mekanisme itu memperlihatkan jalur pengaruh tekanan psikologis terhadap sistem hormonal, saraf, dan kekebalan tubuh.

Bukan Berarti Pikiran Menciptakan Autoimun

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, menyatakan emosi yang dipendam bukan penyebab langsung penyakit autoimun. Penyakit tersebut merupakan kondisi biologis kompleks dengan penyebab utama yang belum diketahui pasti.

Faktor genetik, jenis kelamin, hormon, infeksi tertentu, dan paparan lingkungan dapat berperan pada kondisi ini. Merokok, mikrobioma, epigenetik, faktor psikososial, serta karakteristik penyakit juga dapat ikut memengaruhi pasien.

“Penyakit autoimun adalah penyakit biologis kompleks. Kondisi psikologis memang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, tetapi pasien tidak boleh dianggap menciptakan penyakitnya sendiri karena pikiran atau emosinya,” jelas dr. Lahargo kepada lifestyle.kompas.com.

Stres berat yang berlangsung lama dapat berkaitan dengan gejala atau aktivitas penyakit pada individu yang rentan. Akan tetapi, infeksi, obat-obatan, perubahan hormonal, paparan lingkungan, kualitas tidur, dan kebiasaan merokok juga perlu diperhitungkan.

Hindari Menilai Keluhan Secara Terburu-buru

Menganggap seseorang sakit hanya karena terlalu banyak berpikir dapat memperbesar beban emosional pasien. Pandangan tersebut juga berpotensi menunda langkah diagnosis dan penanganan medis yang dibutuhkan.

Kondisi psikologis sebaiknya dilihat sebagai salah satu unsur dalam gambaran kesehatan secara menyeluruh. Stres bukan satu-satunya pemicu dan tidak tepat dijadikan alasan untuk menyalahkan orang yang mengalami penyakit.

Menjaga Kesehatan Mental Tetap Relevan

Kesehatan mental tetap perlu dirawat meskipun tidak semua keluhan fisik berasal dari pikiran. Tidur cukup dan teratur, aktivitas fisik sesuai kondisi, pola makan seimbang, serta hubungan sosial yang baik dapat membantu mengelola tekanan.

Latihan pernapasan, relaksasi, mindfulness, journaling, dan berbicara kepada orang tepercaya dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan masing-masing. Tidak semua pendekatan harus diterapkan dengan cara yang sama pada setiap orang.

Bantuan profesional kesehatan mental dapat dipertimbangkan jika stres menimbulkan gangguan tidur berkepanjangan, kecemasan atau kesedihan berat, serta gangguan dalam pekerjaan dan hubungan. Keluhan fisik pada saat bersamaan tetap harus diperiksa secara medis, bukan langsung dikaitkan dengan stres.

Baca Juga