Oman Terjepit sebagai Mediator, Trump Ancam Serangan saat Iran Bahas Rute Hormuz

Oman menghadapi tekanan baru dalam perannya sebagai mediator pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Donald Trump mengancam akan membom negara tersebut. Ancaman itu datang ketika Iran menyatakan pembahasan peta rute transit kapal telah menghasilkan kesepahaman.

Negara Teluk itu menyatakan netral dalam konflik, meski telah mengalami sejumlah serangan dari Iran sejak perang meletus. Di saat yang sama, Oman tetap berupaya memfasilitasi komunikasi mengenai salah satu jalur energi paling penting di dunia.

Ancaman Trump terhadap Oman

Fox News, sebagaimana dikutip Media Indonesia, melaporkan Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui sambungan telepon pada Senin. Ia mengaitkan ancaman itu dengan kemungkinan Oman menghalangi jalur perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Koresponden Fox News Trey Yingst mengutip Trump yang berkata, “Jika Oman menghalangi, kami akan membom keparat mereka (kami akan mengebom mereka).” Pernyataan itu membuat posisi Oman sebagai perantara menjadi lebih sensitif.

Trump juga mengklaim Amerika Serikat memiliki saluran komunikasi belakang secara langsung dengan IRGC. Klaim tersebut tidak mendapat pengakuan dari pihak Iran.

Juru bicara IRGC kepada Tasnim News menegaskan tidak ada pembicaraan antara pejabat IRGC dan Amerika Serikat. Ia menyebut klaim Trump sebagai “fantasi yang disebabkan oleh delusi dan mimpi buruk” akibat kekalahan serta keputusasaan dalam perang.

Peta Rute yang Mulai Disepakati

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa kesepahaman mengenai peta rute transit telah dicapai. Ia menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Teheran pada Senin.

Menurut Baghaei, rincian kesepahaman masih akan difinalisasi sebelum pernyataan bersama dirilis. Oman sebelumnya juga menilai perundingan berlangsung positif, sebagaimana dilaporkan BBC dan CBS News.

Pembahasan rute transit menjadi krusial karena Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi perdagangan energi internasional. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melintasi kawasan tersebut.

Unsur PerundinganKeteranganStatus
Peta rute transitDisampaikan Iran telah mencapai kesepahamanMenunggu finalisasi rincian
Pembukaan penuh selatDikaitkan Iran dengan kompensasi dari Amerika SerikatBelum tercapai
Nota kesepahamanKomitmen tertulis berdurasi 60 hariBerakhir pada Senin

Penutupan Jalur Energi Dunia

Teheran menutup Selat Hormuz secara masif setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Februari. Sejak penutupan itu, pembukaan kembali jalur kapal menjadi fokus utama pembicaraan antarpihak.

Normalisasi pelayaran memiliki arti besar bagi arus perdagangan energi yang bergantung pada perairan tersebut. Karena itu, kesepahaman rute transit dipandang sebagai perkembangan penting meski belum menjadi penyelesaian menyeluruh.

Amerika Serikat mendorong normalisasi pelayaran, sementara Iran membahas pengaturan rute dan syarat pembukaan selat. Oman berada di antara dua kepentingan itu dengan tetap membawa posisi sebagai mediator netral.

Syarat Kompensasi dari Iran

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan pembukaan penuh Selat Hormuz bergantung pada kompensasi dari Amerika Serikat. Teheran mengaitkan tuntutan tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman.

Nota kesepahaman berdurasi 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran berakhir pada Senin. Dokumen itu sebelumnya menjadi dasar komitmen kedua pihak untuk melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan final.

Seorang pejabat Iran juga pernah menyebut tuntutan biaya antara 5% dan 7% dari harga kargo untuk kapal yang melewati selat. Tidak ada keterangan bahwa angka itu sudah disepakati dalam pembahasan rute transit terbaru.

Situasi tersebut menunjukkan pembukaan kembali jalur pelayaran masih bergantung pada penyelesaian detail politik dan teknis. Ancaman Donald Trump kepada Oman, bersama bantahan keras IRGC, menandakan ketegangan belum surut di tengah upaya diplomasi.

Baca Juga