KBRI Bogota menyiapkan langkah darurat dan terus memantau kondisi WNI setelah gempa magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia. Langkah tersebut dilakukan di tengah laporan sedikitnya 111 orang meninggal dunia akibat bencana itu.
Perwakilan Indonesia telah berkomunikasi dengan WNI di sejumlah wilayah terdampak. Kementerian Luar Negeri menyatakan seluruh warga negara Indonesia di Kolombia berada dalam kondisi aman.
WNI diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Mereka juga diminta mengikuti arahan otoritas setempat dan memantau perkembangan melalui kanal informasi resmi.
Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Bogota pada nomor +57 301 9061706. Layanan itu menjadi jalur untuk meminta bantuan atau melaporkan kondisi di wilayah terdampak.
Guncangan Terasa hingga Kota Besar
Gempa terjadi pada Senin, 10 Agustus 2026, dengan pusat di Choco yang berjarak sekitar 280 kilometer dari Bogota. Getaran kuat dirasakan hingga Bogota, Cali, Medellin, Pereira, Manizales, dan Ibague.
Pemerintah Kolombia menetapkan status bencana nasional untuk memperkuat penanganan di daerah terdampak. Status tersebut membuka ruang pengerahan sumber daya yang lebih besar serta koordinasi antarlembaga.
Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella menyatakan sedikitnya 87 orang terluka akibat gempa. Kerusakan meliputi rumah warga, bangunan umum, fasilitas kesehatan, sekolah, serta sejumlah ruas jalan.
| Dampak Gempa | Jumlah |
|---|---|
| Korban meninggal | 111 orang |
| Korban luka-luka | 87 orang |
| Rumah rusak | 1.575 unit |
| Rumah hancur sepenuhnya | 37 unit |
| Bangunan roboh | 61 bangunan |
| Fasilitas kesehatan terdampak | 18 lokasi |
| Fasilitas pendidikan terdampak | 52 lokasi |
| Ruas jalan terdampak | 18 ruas |
Selain itu, gempa merusak 17 pusat kegiatan masyarakat. Kerusakan pada berbagai fasilitas tersebut berpotensi menghambat layanan yang dibutuhkan warga selama respons darurat berlangsung.
Respons Darurat Kolombia
Pemerintah Kolombia mengaktifkan sistem tanggap darurat nasional setelah gempa, sebagaimana dilaporkan Anadolu yang dikutip VIVA. Pos Komando Terpadu juga dibentuk untuk mengoordinasikan bantuan dan menilai kebutuhan di lapangan.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, mengatakan KBRI Bogota telah menjaga komunikasi dengan WNI di daerah yang terkena dampak. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Selasa, 11 Agustus 2026.
“KBRI Bogota telah menjalin komunikasi dengan WNI yang berada di sejumlah wilayah terdampak. Berdasarkan pemantauan KBRI Bogota, seluruh WNI di Kolombia dilaporkan dalam kondisi aman,” kata Heni.
Pemantauan oleh KBRI Bogota masih berlanjut seiring penanganan bencana oleh otoritas Kolombia. Prioritas pemerintah setempat adalah memenuhi kebutuhan warga dan melanjutkan pendataan kerusakan akibat gempa M7,4.






