Produksi Minyak Pernah Lumpuh, Kini Kantor PM Kurdistan Kembali Jadi Sasaran Drone

Serangan drone kembali menempatkan Kurdistan Irak dalam situasi rawan setelah dua pesawat tanpa awak menghantam kantor Perdana Menteri Masrour Barzani pada Senin (17/8). Insiden itu mengingatkan pada gangguan sebelumnya yang sampai menghentikan sebagian besar produksi minyak mentah setempat.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kantor pemerintah tersebut. Hingga laporan ini muncul, belum terdapat informasi mengenai korban jiwa.

Ancaman drone di kawasan ini tidak hanya menyasar institusi pemerintahan. Infrastruktur energi juga pernah terdampak, mulai dari produksi minyak hingga pasokan gas bagi pembangkit listrik regional.

WaktuSasaranDampak Utama
April 2024Ladang gas Khor MorEmpat pekerja Yaman tewas, pasokan gas pembangkit terhenti
Juli 2025Wilayah Kurdistan IrakHampir setengah produksi minyak mentah dihentikan
Senin (17/8)Kantor PM KurdistanDua drone menghantam kantor tanpa laporan korban jiwa

Dampak Serangan Sebelumnya

Pada Juli 2025, serangkaian serangan drone selama empat hari membuat hampir setengah produksi minyak mentah Kurdistan Irak berhenti. Para pejabat saat itu menduga pelakunya mungkin milisi yang didukung Iran.

Serangan ke ladang gas Khor Mor pada April 2024 menimbulkan korban paling berat dalam rangkaian insiden yang dilaporkan. Empat pekerja asal Yaman tewas dan pasokan gas menuju pembangkit listrik regional terpaksa dihentikan.

Riwayat tersebut memperlihatkan besarnya risiko serangan terhadap fasilitas strategis di wilayah Kurdi Irak. Gangguan terhadap fasilitas energi dapat berdampak langsung pada produksi dan pasokan energi regional.

Klaim KRG Berhadapan dengan Bantahan Teheran

Badan Keamanan Pemerintah Daerah Kurdistan atau Kurdistan Regional Government (KRG) melaporkan bahwa dua drone terbaru diluncurkan dari wilayah Iran. Teheran menyangkal klaim itu dan menyatakan tidak memiliki informasi mengenai asal serangan dari wilayahnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap tersebut kepada Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melalui pembicaraan telepon. Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi kemudian memerintahkan pembentukan komite investigasi untuk menelusuri sumber drone.

Ketidakpastian asal serangan menjadi unsur penting karena belum ada klaim dari pelaku. Insiden ini terjadi di tengah meluasnya perang Iran melawan Amerika Serikat.

Barzani menyebut serangan ke kantornya sebagai tindakan yang sembrono dan tidak dapat diterima. “Saya mengecam sekeras-kerasnya serangan sembrono dan yang tak bisa diterima ini,” kata Barzani, dikutip Reuters.

Peringatan dari Menteri Luar Negeri Iran

Araghchi turut mengecam serangan itu melalui unggahan di X. “Tak ada pembenaran apapun atas serangan nekat terhadap kantor PM Barzani,” tulisnya.

Ia juga meminta kelompok Kurdi berhati-hati terhadap kemungkinan operasi bendera palsu. Istilah itu menggambarkan operasi yang dibuat agar pihak lain terlihat sebagai pelaku sebenarnya.

Dalam penjelasannya, Araghchi menyinggung sejarah hubungan Iran dengan komunitas Kurdi. Iran membuka perbatasan bagi ratusan ribu pengungsi Kurdi pada perang Iran-Irak 1980-1988 dan mempersenjatai kelompok Kurdi Irak melawan Saddam Hussein.

Teheran juga pernah memberi bantuan militer dan amunisi kepada pasukan Peshmerga saat DAESH menyerbu Irak utara pada 2014. Bantuan itu disebut tiba sebelum bantuan asing masuk ke wilayah tersebut.

Hasil investigasi Irak akan menentukan apakah serangan terbaru berkaitan dengan rangkaian ancaman yang sebelumnya menekan Kurdistan Irak. Penetapan asal drone juga akan memengaruhi ketegangan antara KRG dan Iran yang kini saling menyampaikan keterangan berbeda.

Baca Juga