Lonjakan kawah besar dan kaca tumbukan di Bulan memberi petunjuk tentang hujan asteroid yang mungkin melanda planet berbatu sekitar 800 juta tahun lalu. Rekaman di permukaan Bulan menjadi penting karena jejak benturan pada periode yang sama hampir tidak lagi tersisa di Bumi.
Jika banyak objek mencapai Bulan dalam satu periode, Bumi yang berukuran lebih besar diperkirakan menerima hantaman lebih banyak. Model penelitian memperkirakan sekitar 20 tumbukan besar terjadi di Bumi untuk setiap satu tumbukan besar di Bulan.
Mengapa Bulan Menyimpan Rekaman Lebih Baik
Bumi terus mengalami perubahan akibat erosi, aktivitas gunung berapi, dan pergerakan lempeng tektonik. Proses tersebut dapat menghapus bukti tumbukan yang berusia lebih dari 650 juta tahun.
Bulan tidak memiliki lempeng tektonik, air, maupun atmosfer tebal yang dapat mengubah permukaannya secara intensif. Karena itu, kawah kuno dan material sisa benturan dapat bertahan sebagai arsip peristiwa purba.
Penelitian sebelumnya mencatat peningkatan jumlah tumbukan besar di Bulan sekitar 800 juta tahun lalu. Indikasinya diperoleh dari estimasi usia kawah serta kaca tumbukan yang dibawa oleh misi Apollo.
Kaca tumbukan terbentuk ketika energi tabrakan melelehkan batuan dalam sekejap. Saat membeku, material itu menyimpan penanda waktu yang membantu ilmuwan memperkirakan kapan benturan terjadi.
Satu Pecahnya Asteroid, Tiga Dunia Terdampak
| Lokasi | Petunjuk yang diperkirakan |
|---|---|
| Bulan | Lonjakan tumbukan besar berdasarkan usia kawah dan kaca tumbukan. |
| Bumi | Peluang hantaman sekitar 20 kali lebih banyak daripada Bulan untuk objek seukuran serupa. |
| Mars | Guncangan seismik besar yang bertepatan dengan peningkatan vulkanisme. |
Tim Dr. William Bottke dari Southwest Research Institute menggunakan model tumbukan dan dinamika orbit untuk menelusuri asal lonjakan di Bulan. Analisis itu mengarah pada badan induk Eulalia yang pecah di sabuk asteroid utama antara Mars dan Jupiter.
Sebelum pecah, Eulalia disebut menyerupai kondrit karbon primitif. Tabrakan dengan benda lain diyakini menghasilkan pecahan yang dapat keluar dari sabuk asteroid dan bergerak menuju orbit planet.
Posisi pecahnya objek ini dekat dengan resonansi J3:1 bersama Jupiter. Di wilayah tersebut, asteroid menyelesaikan tiga orbit mengelilingi Matahari saat Jupiter menuntaskan satu orbit.
Tarikan gravitasi Jupiter yang berulang dapat mengganggu orbit pecahan asteroid. Kondisi ini membuka jalur bagi benda langit untuk melintasi orbit Bumi, Mars, dan planet lain.
Sekitar separuh pecahan Eulalia dalam perhitungan tim langsung masuk ke wilayah resonansi. Sebanyak sekitar 25 persen lainnya mencapainya secara perlahan selama 100 hingga 150 juta tahun karena efek Yarkovsky.
Hubungan dengan Perubahan Bumi Belum Pasti
Masa puncak hujan asteroid diperkirakan berdekatan dengan pendinginan global dan perubahan besar pada biosfer Bumi. Kedekatan waktu itu belum dapat dijadikan bukti bahwa tumbukan menyebabkan kedua perubahan tersebut.
Meski begitu, benturan berulang dapat memengaruhi atmosfer, iklim, dan lautan. Di Mars, peristiwa serupa diperkirakan menghasilkan guncangan seismik kuat sekaligus bertepatan dengan lonjakan aktivitas gunung berapi.
Studi ini dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal pada 15 Juli 2026. Temuan tersebut menunjukkan satu tabrakan katastropik di sabuk asteroid utama berpotensi meninggalkan dampak pada sejarah beberapa planet berbatu.






