Kartu Kredit Indonesia atau KKI mulai digunakan dalam bentuk kartu digital dengan akses transaksi melalui QRIS. Pengguna ritel dapat membayar memakai metode pindai maupun QRIS nirsentuh, sementara pembayaran daring dan kartu fisik belum tersedia pada tahap awal.
Pembatasan fungsi awal itu menandai strategi pengembangan bertahap untuk instrumen pembayaran tunda domestik tersebut. Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia memilih QRIS sebagai jalur pertama sebelum memperluas KKI ke bentuk transaksi lainnya.
QRIS Menjadi Layanan Pertama KKI
KKI diperkenalkan untuk segmen individu dan korporasi sebagai pilihan pembayaran kredit di dalam negeri. Untuk segmen ritel, kartu digital menjadi bentuk awal yang memungkinkan penggunaan kredit pada jaringan pembayaran berbasis QRIS.
Pengguna dapat memindai kode QRIS saat bertransaksi atau menggunakan fitur QRIS nirsentuh. Dua metode itu menjadi fungsi yang tersedia sebelum KKI dikembangkan untuk kebutuhan pembayaran daring dan penerbitan kartu fisik.
| Tahap Layanan | Media yang Digunakan | Fasilitas |
|---|---|---|
| Tahap awal | Kartu digital | QRIS pindai dan QRIS nirsentuh |
| Tahap berikutnya | Kanal pembayaran daring | Transaksi daring |
| Tahap lanjutan | Kartu fisik | Kartu dalam bentuk fisik |
Dengan susunan tersebut, pemegang KKI belum dapat menganggap layanan ini telah memiliki seluruh fungsi kartu kredit konvensional. Perluasan produk akan dilakukan mengikuti tahapan yang telah disiapkan oleh para pihak yang mengembangkan sistemnya.
Disiapkan untuk Pengguna Kredit Digital
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ryan Rizaldy mengatakan KKI ritel diarahkan terutama kepada pengguna sumber dana kredit dari generasi Z dan milenial. Kelompok ini dipandang semakin dominan dalam perubahan pola transaksi nontunai.
Ryan menyatakan, “Paling tidak pangsa masyarakat yang saat ini memang akhir-akhir ini terutama yang digerakkan oleh generasi Z dan generasi milenial, pengguna sumber dana kredit ini bisa masuk ke dalam KKI segmen ritel ini.” Pernyataan itu disampaikan di Gedung BI, Jakarta Pusat, pada Senin (17/8).
Sejumlah bank telah berpartisipasi pada peluncuran perdana, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank Mega, serta BSI. BSI masuk melalui skema pembiayaan syariah, sedangkan keterlibatan bank-bank tersebut mendukung posisi KKI sebagai instrumen kredit domestik.
Target Peralihan Transaksi Kartu Kredit
Ketua ASPI Santoso Liem memperkirakan sambungan KKI dengan QRIS dapat memindahkan hingga 10 persen transaksi kartu kredit konvensional ke skema domestik. Proyeksi itu mengacu pada pangsa pasar kartu kredit industri yang saat ini disebut tersisa sekitar 15 persen.
Penyusutan pangsa kartu kredit dikaitkan dengan pertumbuhan cepat penggunaan QRIS dalam transaksi masyarakat. Karena itu, integrasi KKI dengan QRIS dipandang sebagai cara untuk menawarkan fasilitas kredit melalui infrastruktur pembayaran nasional yang telah digunakan secara luas.
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti menyebut KKI ritel sebagai wujud kedaulatan sistem pembayaran nasional. Ia menilai skema domestik tersebut dapat memberi ruang lebih besar bagi pelaku usaha untuk masuk ke ekosistem digital.
Destry juga menyatakan alternatif fasilitas kredit itu dapat membantu menopang konsumsi masyarakat dalam situasi ketidakpastian ekonomi global. Pada saat yang sama, penggunaan KKI bagi konsumen masih berpusat pada kartu digital dan transaksi QRIS hingga pengembangan tahap berikutnya dijalankan.






