Jejak arkeologis di Trowulan mengarah pada dugaan bahwa pusat permukiman Majapahit membentang sekitar 10×10 kilometer persegi. Luasan ini memperlihatkan bahwa kawasan tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai deretan situs kuno yang terpisah.
Data yang tersedia mengindikasikan pola kota dengan klaster-klaster berfungsi berbeda. Gambaran itu sekaligus membuka pertanyaan besar mengenai batas wilayah, jalan, air, industri, dan pengaturan ruang pada masa Majapahit.
Ruang Kota yang Masih Direkonstruksi
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Irfan Mahmud, menyebut proyek Indonesian Field of Archaeology pada dekade 1990-an telah menghasilkan data yang sangat kaya. Namun, sejumlah persoalan mendasar mengenai kota Majapahit belum terungkap secara menyeluruh.
Penelusuran tidak hanya berfokus pada bangunan, melainkan juga struktur permukiman dan lanskap budaya. Kajian tersebut diperlukan untuk mengetahui bagaimana kawasan yang luas itu pernah dijalankan sebagai sebuah kota.
“Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara,” ujar Irfan. Pernyataan itu menempatkan penelitian Trowulan dalam konteks warisan sejarah yang lebih luas.
| Lokasi | Petunjuk Arkeologis | Kemungkinan Peran |
|---|---|---|
| Trowulan | Sebaran tinggalan sekitar 10×10 kilometer persegi | Permukiman berskala kota |
| Sentonorejo | Hunian raja dan bangsawan serta area sakral | Kawasan elite dan istana |
| Nglinguk Wetan | 63 sumur kuno ditemukan kembali | Akses dan kebutuhan air bersih |
Klaster Permukiman dan Kawasan Elite
Peneliti BRIN Yusmaini Aryawati menjelaskan bahwa data arkeologi memperlihatkan pembagian permukiman dalam sejumlah klaster. Kawasan yang disebut meliputi Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri.
Sentonorejo diduga menjadi hunian raja dan bangsawan, dengan area sakral Pamerajan Agung milik istana. Indikasi itu menunjukkan kemungkinan pengaturan fungsi ruang yang tidak berlangsung secara acak.
Keberadaan area elite memberi salah satu dasar untuk membaca struktur sosial dalam Majapahit. Meski demikian, fungsi rinci setiap klaster masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui kajian arkeologis.
63 Sumur dan Persoalan Pengelolaan Air
Di Nglinguk Wetan, tim peneliti menemukan kembali 63 sumur kuno dengan ragam bentuk, ukuran, dan teknologi pembuatan. Temuan itu menunjukkan masyarakat di permukiman Majapahit memiliki akses terhadap sumber air bersih.
Keragaman sumur memberi peluang untuk menelaah kebutuhan air dan cara pengelolaannya di kawasan kota. Sistem air masih menjadi salah satu bagian dari struktur Trowulan yang terus dicari jawabannya oleh peneliti.
Hunian yang Tumbuh Lintas Zaman
Riwayat permukiman Trowulan disebut lebih tua daripada berdirinya Kerajaan Majapahit. Jejak hunian berasal dari abad ke-10 Masehi pada masa Mataram Kuno, lalu berlanjut pada era Singhasari dan berkembang pada masa Majapahit.
Peneliti PRAPS BRIN Sugeng Riyanto menilai karakter permukiman Majapahit di Trowulan diduga merupakan kelanjutan dari Singhasari. Keterkaitan ini dikaitkan dengan garis Wangsa Rajasa, yang bermula saat Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi.
Pelestarian Situs Tetap Berjalan
Upaya pelestarian dilakukan di Situs Bhre Kahuripan melalui inventarisasi, ekskavasi, penetapan zonasi, dan konservasi berkala. Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur menempatkan juru pelihara untuk menjaga kelestarian situs tersebut.
Penelitian dan pelestarian berjalan bersamaan karena setiap tinggalan dapat menambah pemahaman tentang skala serta kehidupan kota Majapahit. Sebaran temuan di Trowulan menunjukkan masih banyak bagian dari tata kota masa lalu yang perlu dibaca kembali.






