Pekerjaan rumah tangga di pasar internasional mulai dipandang sebagai jabatan dengan kompetensi yang terukur, bukan sekadar pekerjaan umum. Jawa Timur merespons perubahan itu melalui SMK Go Global dengan menyiapkan calon pekerja sesuai keterampilan yang dibutuhkan.
Bidang domestik mencakup jabatan seperti housekeeper, childcare, babysitter, family cook, dan family driver. Setiap jabatan memerlukan pembekalan yang berbeda sehingga calon pekerja harus memahami tugas secara lebih spesifik sebelum berangkat.
Profesi Berbasis Keahlian
Perubahan cara pandang ini juga terlihat pada sektor manufaktur, pertanian, dan kesehatan. Kebutuhan tenaga kerja tidak cukup dipenuhi dengan kemampuan dasar, melainkan harus selaras dengan tugas yang tersedia di negara penempatan.
| Sektor | Keahlian yang Diperlukan | Contoh Profesi |
|---|---|---|
| Domestik | Layanan rumah tangga berdasarkan jabatan | Housekeeper, childcare, babysitter, family cook, family driver |
| Kesehatan | Perawatan dan pendampingan | Caregiver, caretaker, perawat lansia |
| Manufaktur | Packing, screwing, fitting, pengelasan industri, pengoperasian teknologi | Tenaga produksi sesuai keahlian |
| Pertanian | Penanaman, pemeliharaan, pemanenan | Tenaga pertanian |
Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti menyebut pengelompokan lama antara pekerja formal dan informal semakin bergeser. Penilaian tenaga kerja kini diarahkan pada pengakuan profesi dan keahlian yang dimiliki seseorang.
Menurut Nurul, pelatihan calon pekerja harus mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Kemampuan teknis perlu dibarengi penguatan karakter serta kemampuan nonteknis untuk menghadapi tuntutan kerja.
Bekal Sebelum Masuk Negara Tujuan
SMK Go Global menempatkan sertifikasi profesi dan penguasaan bahasa asing sebagai bagian dari penyiapan tenaga kerja. Kemampuan tersebut diharapkan membuat calon pekerja lebih siap memenuhi standar kerja di luar negeri.
Kesiapan beradaptasi juga menjadi faktor penting karena perbedaan budaya kerja dan kehidupan dapat memicu culture shock. Kondisi itu dapat memengaruhi perilaku pekerja dan membuat mereka kesulitan melanjutkan pekerjaan.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menegaskan penempatan harus dilakukan melalui prosedur resmi. Calon pekerja perlu terdaftar di Dinas Tenaga Kerja agar tidak berangkat lewat jalur ilegal.
“Yang penting sekarang tenaga harus legal, terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan melalui jalur resmi. Bukan ilegal,” kata Adik. Legalitas berjalan seiring dengan penguatan keterampilan agar pekerja dapat menjalankan jabatan sesuai kompetensinya.
Peluang dari Jepang hingga Turki
Jepang disebut menjadi salah satu tujuan bagi tenaga caregiver, sementara Jerman membuka peluang di sektor hospitality seperti cook dan bidang makanan. Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, Brunei, Australia, serta Turki juga disebut sebagai pasar potensial.
Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia KP2MI Abri Danar Prabawa menyatakan program ini bertujuan meningkatkan daya saing SDM Indonesia di pasar internasional. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah vokasi, lembaga pelatihan, hingga ekosistem di tingkat desa.
Jawa Timur memiliki modal berupa banyaknya sekolah kejuruan dan lembaga vokasi. Namun, kompetensi khusus, sertifikasi, dan bahasa asing masih harus diperkuat agar talenta daerah dapat diakui sebagai tenaga profesional di negara tujuan.
Pemetaan minat, bidang kerja, dan kemampuan warga akan menjadi dasar penyusunan pelatihan selanjutnya. Dengan pendekatan itu, Pekerja Migran Indonesia diharapkan dapat ditempatkan berdasarkan kebutuhan jabatan, bukan hanya berdasarkan ketersediaan tenaga kerja.






