Gajah Mati di Perkebunan Sawit Jelang 12 Agustus, Penyebab Masih Diselidiki

Seekor gajah jantan ditemukan mati di jalur perkebunan kelapa sawit di Aceh Tamiang, tiga hari sebelum Hari Gajah Sedunia. Penyebab kematiannya belum dapat dipastikan meski kedua gading masih utuh dan tidak terlihat luka fisik pada tubuhnya.

Bangkai gajah itu ditemukan pada 9 Agustus 2026 sekitar pukul 12.00 WIB di Afdeling B Blok 34. Lokasinya berada di perkebunan milik PT MPLI, Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Nekropsi Dilakukan di Lapangan

Pekerja perkebunan mula-mula melihat tubuh gajah tergeletak di jalan di antara tumpukan pohon sawit. Datuk Penghulu Kaloy, Andi, menyatakan area tersebut merupakan jalur perkebunan dengan akses jalan yang rusak.

Temuan itu dilaporkan kepada kepolisian dan kemudian diteruskan kepada BKSDA Aceh. Petugas gabungan melakukan identifikasi awal sebelum dokter hewan dikerahkan untuk menjalankan nekropsi di lokasi.

Hasil nekropsi diperlukan untuk mengetahui penyebab kematian secara lebih pasti. Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan pihaknya belum dapat membuat kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan diterima.

“Tim melakukan bedah bangkai atau nekropsi di lapangan. Jadi, kami belum menerima hasilnya dan kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya,” ujar Ujang, seperti diberitakan Kompas.com.

GajahLokasiWaktu Mati atau DitemukanStatus Pemeriksaan
Gajah jantanPerkebunan sawit Aceh Tamiang9 Agustus 2026Nekropsi dilakukan, hasil ditunggu
YunaPusat Latihan Gajah Saree11 Agustus 2026 malamDiduga kuat terinfeksi EEHV

Yuna Mati Dua Hari Kemudian

Dua hari setelah temuan di Aceh Tamiang, kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah Saree. Yuna, anak gajah betina berusia di bawah tiga tahun, mati pada 11 Agustus 2026 pukul 20.48 WIB.

Yuna diduga kuat terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus atau EEHV. Virus ini diketahui merusak lapisan dalam pembuluh darah dan rentan menyerang anak gajah.

Pada pagi hari sebelum mati, Yuna masih aktif beraktivitas. Kondisinya mulai melemah sekitar pukul 16.00 WIB dengan gejala mata dan wajah membengkak serta lidah membiru.

Ujang Wisnu Barata menyebut penurunan kondisi Yuna terjadi sangat cepat. “Kondisi Yuna drop sangat cepat,” katanya sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Kehutanan RI.

Alarm bagi Populasi yang Menyusut

Dua kematian di Aceh terjadi ketika gajah sumatra berada dalam status terancam kritis. Kementerian Kehutanan mencatat sedikitnya enam gajah mati sepanjang November 2025 hingga Juni 2026.

Populasi gajah sumatra hingga Juli 2026 tercatat sekitar 1.100 ekor. Jumlah itu jauh lebih rendah daripada perkiraan 2.400 hingga 2.800 ekor pada 2007.

Pakar konservasi IPB University, Prof. Burhanuddin, memperkirakan populasi satwa ini telah menyusut lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Populasinya di alam liar kini berada pada kisaran 900 hingga 1.350 individu.

Tekanan utama juga datang dari hilangnya serta terpecahnya habitat akibat perubahan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan. Pembangunan jalan, perluasan permukiman, dan aktivitas manusia membatasi ruang jelajah serta meningkatkan potensi konflik manusia dengan gajah.

Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus menjadi pengingat bahwa perlindungan tidak berhenti pada penyelidikan kematian individu. Keberlanjutan habitat dan ruang hidup tetap menentukan masa depan gajah sumatra di alam liar.

Baca Juga